SHINee FF // Don’t Believe Me // Part 1

Posted: November 30, 2013 in Fanfiction, PG, Sad
Tag:, , , , , , , , , ,

Tittle : Don’t Believe Me

Author : ViKeykyulov

Maincast : Lee Taemin, Park Hyunsoo, Choi Minho.

Support cast : SM artis (slight Key-Hyuna, Jonghyun-Hyora)

Genre : Romance, sad, little angst.

Rate : PG 17 (I Warned it)

Length : Sekuel.

Summary : jangan pernah mempercayai sesuatu dari tampilanya. Karena apa yang terlihat dari luar terkadang tak sama dengan isi di dalamnya

Don't believe me

.

Note : beberapa bulan berperang melawan kemalasan, akhirnya bisa kombek dengan FF ini dan parahnya saya agak bosen dengan FF komedi (karena FF kom

edi yang terkhir gagal total).wkwkwk

Entah kesambet apa, tiba-tiba ide FF ini melintas di otakku. Sedikit curhat sih, beberapa waktu belakangan ada begitu banyak situasi dan kondisi yang menyulut emosi di dunia per-kpop’an terutama yang menyngkut Uri SHINee. Semua emosi, kegalauan yang mengendap membuat otakku rada konslet hingga memunculkan ide FF ini. FF yang sedikit dark dengan tema tak lazim. Yah, kuperingatkan dulu. Kalau gak kuat jangan di paksakan membaca. Disini akan ada bashing karakter. Oke, Notenya cukup. Silahkan baca dan tuangkan unek-unekmu tentang FF ini di kotak review. Apapun koment-nya bakalan aku terima dengan lapang hati. Happy reading!!

Oh iya… Fict ini juga special Gift for Nevember Girls Birthday! Me, Dee eonni and Kania. maaf ya… hadiahnya telat banget.. dan ini kisah kita bertiga.hehehe

.

.

.

Part 1 : Disaster

Orang bijak selalu berkata, jangan menilai seseorang melalui penampilan. Tapi nilailah dia dari isi hatinya. Dan menurutku itu sangat benar adanya, seperti seorang member boyband terkenal di dunia. Aku sama sekali tak menyangka, dan rasanya tak ingin percaya dengan apa yang kulihat saat ini. Dia, seseorang yang selama ini kukira sempurna ternyata jauh dari bayanganku.

.

.

.

Seperti biasa, latihan di gedung SM ent menyita waktu sampai berjam-jam bahkan untuk latihan satu lagu baru mereka. Keringat sudah mengucur saat pelatih menyudahi latihan hari ini. Sial, badanku rasanya mau copot. Yakin sekali, sampai rumah tulang-tulangku remuk seketika. Kasur, mana kasur.

“Hyun~ssi… terima kasih untuk latihan hari ini. Dan untuk kalian semua, selamat beristirahat.” Leader DBSK bernama Yunho itu tersenyum padaku. Hah, senyumnya benar-benar menenggelamkan akal sehatku. Aku Meleleh.

“Hyun hyung…berhenti bertingkah konyol. Mereka semua akan menganggapmu gay.” Seseorang menyenggol bahuku dan megembalikan kesadaranku. Chan, namja keturunan China yang dua tahun lebih muda dariku.

“Ya… apa maksudmu Chan?”

“Tentu saja, kalau hyung masih saja memasang wajah konyol setiap kali Yunho hyung tersenyum padamu. Semua orang akan mengira kau mencintainya. Kelihatan sekali kalau hyung itu sangat memuja Yunho hyung.”

“Diam kau…” Sungutku kesal. Ayolah, di dunia ini siapa yang tidak terjerat pesona salah satu leader kebanggan SM. Dari nenek-nenek sampai bayi juga tahu kalau Jung Yunho memang tampan to the max. ah, sudahlah. Mengurusi Chan Yongdae tidak akan ada habisnya, lebih baik pulang dan istirahat. Aku rindu futonku yang hangat.

Berjalan sendirian menyusuri koridor gedung SM yang kini mulai gelap terasa menyeramkan. Apalagi sepertinya latihan anak-anak SM lainnya juga nihil. Biasanya, jam-jam seperti ini mereka akan sibuk berlatih di ruangan masing-masing. Suara bising, gaduh akan menjadi pemandangan umum saat idol-idol itu mulai bertingkah absurd. Idol juga manusia kan, wajar saja jika sesekali mereka terlihat konyol. Lagi pula, anak-anak SM memang sudah terkenal paling heboh saat bercanda. Tidak hanya suju, DBSK, dan SNSD, bahkan SHINee juga F(x).

Lebih dari dua tahun menjadi back dancer DBSK membuat mataku kebal terhadap pesona mereka saat berpapasan. Mau itu Suju, SNSD, Boa, SHINee, Fx dan yang teranyar EXO. Bagiku, mereka manusia biasa sama sepertiku. Kecuali Yunho DBSK. Sejak DBSK masih berlima, aku sudah menyukainya.

“Bruk…” Seseorang menabrak tubuhku sedikit keras.

“Jalan lihat-lihat” Sungutnya. Dan aku juga sudah biasa melihat tingkah maknae SHINee satu ini. Terkadang untuk beberapa alasan, aku sangat benci ketika harus rolling menjadi Back dancer SHINee. Terutama karena manusia es satu ini. Jika sedang bad mood, manusia satu ini akan sangat, sangat dan sangat menyebalkan.

“Maaf…”  Ujarku seraya membungkuk, malas berpanjang lebar dengannya walau jelas-jelas dia yang menabrak karena berjalan tergesa. Mata mana? mata.

Lihatkan! Bahkan dia tidak merespon permintaan maafku. Melengos dengan wajah kusut. Bagaimana ya komentar netizen melihat kelakuan maknae SHINee yang katanya terkenal sopan dan periang itu. Mungkin akan lebih sadis dari komentar-komentar yang diterima T-ara saat Hwayoung keluar kemarin-kemarin.

Masih terdengar jelas umpatan kesal dari mulut semerdu racun milik Lee Taaemin saat kakiku melangkah menuju pintu keluar. Dan lagi aku harus terlonjak kaget saat melewati koridor di depan kelas acting. Terdengar suara debuman keras, seperti pintu yang ditendang. Berhenti sejenak, tak lama kemudian muncul pria tinggi besar yang kukenal bernama Choi Minho.

Melihat Minho membuat otakku berimajinasi liar. Mungkinkah ada yang tidak beres antara dua member SHINee tadi. Sebuah pertengkaran karena salah paham mungkin. Atau jangan-jangan bertengkar masalah perempuan. Siapa peduli. Aku terus melangkah melewati Minho yang masih mengatur nafas dan ekspresinya. Dia menatapku tajam saat kami berpapasan. Sial, tatapannya seperti membakarku.

.

.

.

Keluar dari gedung SM, suasana terasa sangat berbeda. Langit tak begitu gelap saat aku berjalan di trotoar jalan besar. Meski hampir mendekati tengah malam, hiruk pikuk pejalan kaki masih memenuhi sepanjang trotoar. Dan lagi, pada jam-jam segini masih banyak yoeja muda yang berkeliaran di sekitar gedung. Hah… sasaeng fans. Sekelompok orang yang perlu ditanyakan kejiwaan mereka ke psikiater. Melakukan segala hal untuk idola mereka. Bahkan tak segan melakukan hal-hal ekstrim yang tidak bisa diterima akal sehat.

“Bau…” Endusku pada ketiak saat mendekati stasiun kereta terdekat. Sudah berapa jam kulitku tidak menyentuh air hari ini. Keringat yang mengering sungguh mengganggu.

Memasuki kereta, tiba-tiba tubuhku terhuyung saat seorang laki-laki menabrak tubuhku.

Aku kenal siapa laki-laki ini, dia lagi. Sial sekali hari ini aku bertemu dengannya –lagi. Dua kali dia menbrak tubuhku.

Karena alasan yang tak dapat dihindari kami duduk bersebelahan, laki-laki yang kini mulai bertransformasi menjadi laki-laki dewasa. Seorang maknae boyband keluaran SM. Tidak salah lagi, Lee Taemin. Dari kepala sampai ujung kaki, aku sungguh tak menyukainya. Dunia hiburan itu penuh kepalsuan. Apa yang tampil dilayar kaca tak pernah sama dengan kenyataan yang terjadi sebenarnya.

“Jangan melihatku terus Hyun~ssi. Aku takut kau akan jatuh cinta padaku.” Bisiknya dengan suara dingin yang terdengar kejam. “Aku tak mau dijadikan alasan lagi atas penyimpangan seseorang.” Aku tak menanggapi, hanya mendengarkan sambil mengalihkan pandangan dari wajahnya. Karena Tiba-tiba suaranya berubah jengkel. Seperti melampiaskan sesuatu. Dan sejujurnya, aku tak mengerti apa yang ia katakan.

“Kapan kehidupan memuakkan ini berakhir.” Erangnya frustasi. Sebenarnya apa yang dia bicarakan aku benar-benar tak paham. Seperti orang depresi saja. Apa begitu melelahkan menjadi artis.

Beberapa puluh menit berlalu dalam keheningan, penumpang mulai sepi karena lebih dari separuhnya berhenti di pemberhentian sebelumnya. Kulirik Taemin, dia terlihat memejamkan matanya. Bulu mata hitam yang lentik bertaut seperti boneka porselen. Syalnya sudah turun jauh menampakkan jejak ketampanan yang digilai banyak gadis diluar sana. Untuk alasan tertentu, orang-orang tak salah bicara saat mengatakan bahwa Taemin terkadang terlihat cantik dan tampan sekaligus. Oke, cukup memujinya. Bersiap Park Hyunsoo, sebentar lagi kau harus turun.

Kereta mulai berhenti saat aku bangun dari tempat dudukku. Sedikit tersentak begitu Taemin menahan ransel hitam di punggungku.

“Tunggu aku…”

“Lee Taemin, cukup! Aku sudah tidak tahan lagi. Jangan menggangguku.” Gertakku hilang kesabaran. Apa maunya orang ini sebenarnya.

“Aku tidak mengganggumu. Aku hanya bilang tunggu aku.” Kilahnya enteng. Berjalan sambil menyeret ranselku kurang ajar. Sabar, sabar.

Masih dengan adegan yang tadi, kami berjalan keluar stasiun bawah tanah. Sekuat apapun aku memberontak, dia akan semakin mengencangkan cengkramannya. Dan aku bukan orang bodoh yang mau saja menjadi tontona gratis orang-orang disekitar sini.

“Lepaskan aku!! Kau ini tidak punya sopan santun. Jika saja semua fansmu tahu hal ini.”

“Mereka tidak akan percaya.” Lagi dia meremehkan ucapanku. Melepas cengkramannya sambil tersenyum licik. Tanpa memperdulikan tingkahnya, aku berjalan menjauh. Menyusuri toko-toko kecil menuju gang rumahku. Distrik yang terkenal sebagai kota tua di Korea, yah aku tinggal di pinggiran Insang-dong.

Debuman sepatu di belakangku menandakan bahwa manusia menyebalkan yang sayangnya tampan itu masih setia berjalan di belakangku. Bahkan ketika langkahku sudah berhenti di depan rumah kecilku yang kutinggali bersama si kembar bermarga Kim.

“Tanpa mengurangi rasa hormat, silahkan kau pergi dari sini Tuan Lee Taemin.” usirku dengan halus. Masih mencoba bersabar.

“Aku tidak akan pergi. Kurasa cuaca semakin dingin. Lekas buka pintunya dan kita bisa masuk.” Sahutnya tak menggubris ucapanku. Sial! Bocah ini benar-benar merepotkan.

“Aku tidak akan membuka pintu sebelum kau pergi dari sini. Setidaknya hormati aku yang lebih tua darimu.” Kupasang wajah menyeramkan untuk mengusirnya dari sini. Dan sepertinya usahaku sia-sia. Dia justru berjalan mendekat, lalu menyudutkanku. Sial! Bagaimana dia bisa melakukan ini padaku. Dasar bocah! Bahkan umurnya dua tahun lebih muda dariku.

“Cepat buka pintunya… atau orang-orang akan menyangka kalau disini ada pasangan gay yang sedang berbuat mesum.” Bisiknya tepat di telinga. Tubuhku merinding merasakan desahan nafasnya yang hangat menerpa kulit leherku. Sial. Itu daerah terlarang.

“Dasar sinting!!” Makiku kasar. Mendorong tubuhnya sekuat mungkin. Tak bergeming. Dia justru menyeringai melihatk kemurkaanku.

“Ternyata menggodamu sungguh menyenangkan. Dan Park Hyun~ssi, dari dekat wajahmu semakin terlihat cantik. Yah, bahkan lebih cantik dari Ren Nu’est. Andai saja si brengsek itu melihatmu sekarang, pasti dia akan tertarik padamu. Yeppoe namja.”

Tuhan… tolong jaga kewarasanku. Jangan sampai aku melakukan sesuatu yang akan kusesali nantinya, seperti memukul kepalanya dengan tongkat bisbol agar otaknya yang konslet itu normal kembali. Atau pilihan lainnya memutilasi bibirnya yang kurang ajar itu.

.

.

.

Dengan kesabaran ekstra, kubiarkan manusia menyebalkan itu masuk ke rumahku. Dan lihat tingkahnya, serasa rumah sendiri. Duduk menopang kaki di atas meja sambil matanya yang terus melirikku tajam.

“Sekarang katakan apa maumu lalu segera angkat kaki dari sini.” Jengah juga melihat tingkahnya yang sangat-sangat menyebalkan. Kehadirannya membuatku terintimidasi. Aku merasa terkekang bahkan di rumahku sendiri.

“Mauku? Tidak banyak. Aku hanya ingin memastikan sesuatu.” Taemin –sungguh aku benci harus menyebut namanya setelah apa yang dia lakukan dari tadi, dia berdiri dari duduknya lalu berjalan mendekat dengan langkah di buat sepelan mungkin.

Grab!!

Tiba-tiba dia mencekal lenganku, merapatkan tubuhku dengan tubuhnya. Sial, aku terjebak diantara daun pintu dan tubuh maskulinnya.

“Aku ingin tahu, reaksi tubuhku jika melakukan ini padamu. Sudah cukup lama aku mengamatimu Park Hyun~ssi. Dan semakin melihatmu membuatku semakin sanksi dengan orientasi seksualku. Terlebih karena perlakuan si brengsek itu padaku.” Ada kemarahan yang timbul saat dia mengucapkan kata brengsek. Seperti ada api yang berkilat dalam bola matanya. Tubuhku menegang saat Taemin mulai mendekatkan wajahnya dan mencengkram pipiku erat.

“Lhepss…kkan…akhhhu..” Tolakku tak jelas. Aku takut, mataku terpejam saat merasakan bibir Taemin menempel di bibirku. Rasanya aneh, aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskan. Hanya beberapa detik berlalu, dia lantas melepaskan ciumannya. Kemarahannya semakin terasa saat tangan kirinya merenggut belakang kepalaku dan menempelkan keningnya di keningku. Tanpa bisa di cegah, air mulai menggenangi pipiku.

“Hah… apa yang sudah kau lakukan padaku. Bagaimana jantungku bisa berdebar karena mencium seorang namja sepertimu. Cih! Ini menjijikkan!” Makinya dengan suara tajam. Dia tidak berteriak, tapi justru suaranya terdengar menyeramkan.

Lagi, dengan brutal Taemin meraup bibirku dalam lumatan yang kasar. Perih, karena aku bisa merasakan kemarahan yang kian berkobar dalam perlakuannya padaku. Tangan kirinya semakin kencang merenggut kepalaku, sedang tangan kanannya bergerak merangkul pinggangku agar semakin merapat padanya. Tak berkutik, rasanya aku hanya bisa menangis dengan apa yang menimpaku saat ini. Rasanya tak percaya seorang Lee Taemin bisa berbuat hal senista ini padaku. Terlebih dia melihatku sebagai seorang namja. Aku tak bisa melawannya, tenaganya kuat sekali.

“Aku membencimu… sangat membencimu.” Samar kudengar suaranya diantara gerakan kasar bibirnya yang terus menciumku. Entah kenapa rasanya tubuh Taemin bergetar seakan menahan laju gelombang emosi dan kebencian.

“EONII!!”

Ada yang memanggilku. Kupaksa mataku terbuka dan dari celah diantara wajah Taemin yang menempel pada wajahku, aku bisa melihat dua orang gadis berdiri kaku di depan pintu. Tolong selamatkan aku Kim Hyuna, Kim Hyora.

“YA!! Apa yang kau lakukan pada Hyunsoo eonni!” si sulung Kim Hyuna mulai berjalan dan menarik belakang tubuh Taemin. membuat tautan bibir kami terlepas begitu saja. “Brak!!” dengan kasar dia mendorong maknae SHINee itu hingga tubuhnya terhempas menabrak meja. Sedangkan kakiku sendiri sudah tak bisa menopang berat tubuh. Aku jatuh merosot bersandar pada daun pintu kamar. Kurasa bibirku sedikit bengkak dan akhirnya tangisku pecah. Aku terisak.

“Dia… Lee Taemin SHINee.” Masih bisa kudengar pekikan terkejut dari saudara kembar Hyuna, Kim Hyora. Sepertinya dia juga tidak percaya dengan apa yang dia lihat.

“Eonni… Hyunsoo Eonni… gwenchana?” Hyuna memegang dua bahuku, memaksaku untuk melihatnya. Disampingnya, Hyora menatapaku tak kalas cemas.

 

Author POV

 

Mendengar panggilan dua yoeja yang baru muncul tadi. Mendadak Taemin menyadari sesuatu. Bahwa Park Hyun yang selama ini ia kenal sebagai back dancer di SM itu bukanlah seorang namja.

“Eonni? Maksud kalian? Park Hyun perempuan… kalian bercanda?” timpal Taemin setengah tidak percaya.

“Ya… apa kau pikir dia seorang namja? Kau tertarik padanya. Jadi maksudmu, kau seorang gay?. Hah, ternyata. Seorang Lee Taemin yang dikenal baik hati mempunyai kelainan seperti ini.” Yoeja berambut panjang dengan wajah teduh yang tadi terkejut saat tahu bahwa dia seorang Lee Taemin kini menghardiknya. Mengatakan sesuatu yang sangat ia benci dan coba ia sangkal selama ini.

“INI TIDAK SEPERTI YANG KALIAN BAYANGKAN. AKU BUKAN GAY!” Taemin balas menghardik. Tak terima dengan tuduhan yang dilontarkan barusan. Rasanya sangat sakit, mendengar ucapan yoeja tadi. Sudah cukup rasanya beban batin yang ia terima selama ini. Namun, ada sedikit kelegaan dan rasa bersalah saat mengetahui jati diri Park Hyun sebenarnya. Itu artinya, ketertarikan dia pada back dancer berbakat itu bukanlah sesuatu yang menyimpang seperti yang ia sangka selama ini. Setidaknya ini sedikit membuktikan bahwa dia bukan gay, dia tidak sama dengan si brengsek yang meracuni hidupnya selama ini. Lalu, pandangannya beralih pada sosok berambut pendek coklat dengan pakaian namja yang tengah terisak dalam pelukan yoeja berambut coklat sebahu. Yah, ada sesal yang menyusup dalam relung hatinya.

TBC.

 

 

 

Komentar
  1. Hyora Kim berkata:

    huaah..
    Eviiiii.. Teganya dikau menohok jantungku dengan tiga huruf itu.. TBC. Huweee..
    Dan,, dan,, aku lebih tua harusnya… Hahahaha..
    ‘Brengsek’ siapa tuh? Minho?? O_o
    next.. Next.. Next..

  2. Nunadk berkata:

    Aaaa….
    Apa inih…
    Apa inihh…..

    Hahhahahahaahhahaha
    Mendadak happy to the max..

    Yoeja=Yeoja
    wuih,, tulisannya makin rapih euy…
    Cm nemu 1 typo.

    Yeay….
    The best gift on this year I’ve ever receive…….

    Thx Vie….

    *jogedbarenghyora
    *tendangMINHO

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s