Special Key’s B’days // 2Kim TaeSoo // Wedding Dress Part 1 from 3

Posted: Oktober 3, 2013 in Uncategorized
Tag:, , ,

Tittle : Wedding Dress

Author : ViKeykyulov

Maincast : 2Kim, Lee Taemin, Kim Myungsoo.

Support cast : Kim Jonghyun, Lee Jinki

Genre : AU, Family, romance.

Rate : G.

Length : 3shot

Gambar

Summary :  Impiannya adalah memakai gaun pernikahan hasil rancangannya sendiri karena dulu saat menikah dia tidak memakai gaun pernikahan.

A/n : Persembahan special untuk Ultah Kim Kibum SHINee.

.

.

.

.

Semua belum berakhir, hingga benar-benar berakhir.

Hanya orang-orang yang tahu persis bagaimana caranya dia kelak mati saja yang mengerti bagaimana seharusnya hidup di dunia.


Mereka yg kaya bukanlah mereka yg mampu membeli segalanya, tapi mereka yang mempunyai sesuatu yang tak mampu dibeli dengan apapun. Seperti halnya kasih sayang, ketulusan dan cinta sejati.

 

OooO

 

 “Kim Hyuna… cepat selesaikan makanmu. Oppa sudah kesiangan.” Suara namja memecah keheningan. Berdiri dari tempatnya duduk, kemudian berjalan kearah wastafel tak jauh dari meja makan. Di sana, masih ada dua orang lainnya yang sedang menikmati sarapan pagi. Dan salah satunya adalah seorang gadis berambut panjang dengan seragam middle school yang dikenakannya.

“Ish Appa, lihatlah anakmu. Tidak sabaran sekali. Bahkan susu di gelasku belum habis.” Gadis yang tadi dipanggil Hyuna itu menggerutu. Meletakkan omelette yang tinggal separuhnya.

“Taemin, tunggu adikmu selesai dulu. Duduklah. Hyuna, habiskan sarapanmu. Appa tidak mau melihat ada sisa makanan dalam piringmu itu” Akhirnya sang appa turut bicara. Meletakkan koran di atas meja. Menatap putra tengahnya dengan tegas.

“Baiklah… 10 menit. Jika tidak, ku tinggal.” Taemin berdiri di samping kursi Hyuna. Merapikan kerah bajunya yang sedikit kusut.

“Pagiii!” Sapa namja muda lainnya. “Hai cantik!” Mendekati Hyuna dan…

Chup~

Satu kecupan mendarat di pipi gadis yang merupakan bungsu keluarga Kim.

“YA!” Hyuna mendelik. “Berhenti menyentuh pipiku Kim Myungsoo. Appa! Bilang pada Myungie oppa, jangan lagi-lagi mencium pipiku. Aku sudah besar appa.” Adunya pada laki-laki paruh baya yang duduk di sebrang kursinya. Mencebikkan bibirnya imut.

“Kim Myungsoo! Berhenti mengganggu adikmu.” Sang appa menanggapi, menegur putra sulungnya, menyuruh namja yang kini berumur 24-an itu duduk di kursi sampingnya dengan isyarat.

“Dasar tukang adu.” Cibir Myungsoo dengan cengiran lebar. Kembali mengejek satu-satunya yeoja di rumah mereka. Dan mengambil tempat di sisi kanan kursi sang appa. Menyendok nasi goreng ke dalam piringnya dan mulai mengunyah sarapannya.

“Biar… kajja Taemin oppa, kita berangkat.” Dengan ekspresi dibuat angkuh, Hyuna berdiri dan menggamit lengan Taemin yang dari tadi hanya tersenyum geli.

“Appa… kami berangkat. Saranghae!” Hyuna mewakili kakaknya, berpamitan pada appanya. Kemudian beranjak dan mencium pipi namja paruh baya yang beberapa helai rambutnya sudah ditumbuhi uban. Lalu, kembali menggamit lengan Taemin oppanya setelah sebelumnya memeletkan lidah, mengejek Myungi oppa saat mata mereka bertubrukan.

“Hei… kalian sudah mau berangkat? Tunggu…” Menenggak susunya dengan terburu-buru, Kim Myungsoo atau yang tenar dengan nama panggilan L itu berlari mengejar kedua saudaranya. Sebelum menghilang ditelan pintu, dia menolehkan kepalanya. “Appa! Aku berangkat. Saranghae!” Serunya tergesa. Kemudian berbalik mengejar Hyuna dan Taemin.

Naddo appa saranghae aegy-deul.”

Pria paruh baya, appa dari ketiga anak muda itu tersenyum dari balik jendela rumah. Melihat, bahwa ketiga buah hatinya tumbuh dengan baik. Saling menyayangi dan mengasihi. Tak bisa dipungkiri, gelombang kebahagiaan kini meliputi perasaannya. Kim Hyuna, putri bungsunya yang cantik. Kini mulai menjelma menjadi sekuntum bunga mempesona yang siap mekar. Di usianya yang masih muda –setidaknya bagi seorang remaja 14 tahunan itu mulai tampak garis-garis kecantikan yang akan membuatnya menjadi dambaan setiap namja.

Membuka kacamatanya, Kim Kibum –nama pria itu. Memijat belahan diantara dua matanya. Lalu, area jajahan dua matanya berputar. Mengedarkan pandangan, menyusuri sudut demi sudut rumah yang sudah ia tinggali hampir lima belas tahun lamanya. Tiba-tiba matanya menangkap selapis kain putih tebal yang ditempatkan dalam lemari kaca. Kain putih beruntaian batu mulia di beberapa sisinya. Menjuntai hingga menutup lantai. Kain putih bertudung panjang yang setiap kali ia melihatnya, akan langsung mengingatkan pada sosok yang akan selalu dia rindukan. Sebuah benda sarat kenangan. Kain putih yang ia kenal dengan gaun pengantin atau wedding dress.

 

Wedding dress…

 

OooO

 

Langit di luar terlihat menggelap. Tetes demi tetes air hujan mulai turun membentuk gerimis. Seorang yeoja menatap keluar dari balik jendela. Sedikit menyeka poninya yang menghalangi pandangan.

“Turun hujan ternyata…” Desahnya. Meletakkan penjepit juga melepaskan bola peniti dari tangan kirinya. Kemudian tatapannya beralih ke gaun putih panjang di hadapannya. “Dia pasti melupakan payungnya lagi.” Gumamnya sambil merapikan beberapa peralatan yang terserak. “Masih ada 25 menit.” Menyambar blazer ungu di gantungan dan berjalan menuju pintu.

“Eonni… aku menjemput kekasihku dulu.” Pamitnya kepada seorang yeoja lain yang baru masuk sambil membawa beberapa barang yang sepertinya bahan-bahan untuk pesanan gaun pengantin kliennya.

“Ah… iya. Hati-hati Hyu…” Sambut wanita yang di panggil eonni tersebut sekilas. “Aigoo!! Sora benar-benar membuat uban di rambutku makin banyak. Tidak bisakah sekali saja dia mengerjakan tugasnya dengan benar” Sepertinya suasana hati eonni kita ini sedang buruk.

Tak memperdulikan gerutuan eonninya, Hyuna –nama yeoja kita ini berjalan menuju basement untuk mengambil mobil di parkiran.

.

.

.

“Hujan berhenti, hujan tidak berhenti. Hujan berhenti, hujan tidak berhenti.”

Di sebuah sekolah dasar yang terletak di Namseong-ro di daerah Daegu, yang posisinya tidak terlalu jauh dari pasar Yangnyeong, pasar pusat obat herbal di seluruh penjuru Korea seperti halnya Jeonju dan Wonju. Seorang namja kecil yang sekarang duduk di tingkat 3 Elementary school itu berdiri di depan koridor Hall yang berbatasan langsung dengan lapangan juga gerbang sekolah.

Menatap satu persatu teman-teman sekelasnya yang mulai beranjak meninggalkan sekolah dengan payung beraneka warna. Suara gerimis terdengar nyaring, tetesan air yang jatuh di atas bangungan sekolah menjadi latar saat namja kecil itu berjalan mondar-mandir. Tas punggungnya yang berwarna biru bergoyang seiring langkah kakinya.

“Hujan tidak akan berhenti hanya karena kau bolak-balik begitu.” Tegur namja kecil lainnya. Tersenyum mengejek dengan payung hijau terkembang di atas kepalanya.

Berpaling sekilas, namja pertama tak menyahuti. Mengacuhkan ucapan teman sekelasnya itu. Kembali pada kesibukannya sejak tadi.

“Hei Jorangmal… apa takut air hujan. Kenapa tidak menerobos hujan saja. Bukannya kuda poni suka air” Ucap temannya tadi. Bahkan sekarang terang-terangan mengejeknya dengan nama hewan lincah berkaki empat yang terkenal dengan kecepatan larinya itu. Mendongakkan wajahnya, menatap namja seusianya yang ia ingat memang selalu mencari masalah dengannya.

“Berhenti menggangguku… Little foxy.” Balasnya jengah. Menatap bocah yang dia panggil rubah kecil.

“Aigoo… kekasihku ini sudah menunggu lama.” Suara nyaring seorang wanita dewasa menahan little foxy yang akan membalas sindiran si Jorangmal.

“Umma…” Rengek Jorangmal saat wanita itu langsung memeluk tubuhnya dengan erat.

“Apa uri Taemin tidak rindu umma.” Wanita dewasa itu ternyata umma si Jorangmal –kuda poni yang bernama asli Lee Taemin. mencibikkan bibirnya, pura-pura cemberut dan melonggarkan sedikit pelukannya. Menatap putra semata wayangnya yang menghela nafas dengan bosan.

Terkadang, untuk beberapa hal umma-nya ini bisa membuatnya merasa diperlakukan seperti anak balita usia 3 tahun.

“Baiklah-baiklah… kajja kita pergi. Lain kali jangan lupa membawa payungmu.” Melihat ekspresi anaknya, Hyuna memilih untuk berdiri. Memakai payungnya dan menggandeng tangan Taemin. Dan saat berbalik, barulah ia tersadar bahwa sedari tadi ada pihak ketiga yang menonton interaksinya dengan Taemin barusan. Namja dengan usia yang tak beda jauh dengan anaknya itu hanya terdiam dan menatapnya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.

“Anyeong!” Sapa Hyuna disertai senyuman ramah, mendekat satu langkah. Dan tersenyum lebar saat namja bermata runcing itu membalas sapaannya dengan sopan.

“Apa kau chingu Taemin?”

“BUKAN!” Sambar Taemin cepat. Menahan lengan ibunya agar tidak lagi mendekat. “Aku tidak mengenalnya.” Tambahnya dengan tatapan tidak suka. Hyuna memutar kepalanya cepat, sedikit terkejut dengan ucapan frontal anaknya. Meski Taemin cenderung pendiam dan datar, tapi Hyuna yakin seratus persen bahwa anak yang dilahirkannya 9 tahun yang lalu ini bukan golongan anak-anak yang senang mencari masalah dan memancing keributan.

Sedikit ia akui, Taemin tumbuh menjadi pribadi yang sedikit introvert. Mungkin salahnya juga terlalu banyak menghabiskan waktu untuk bekerja. Tapi, tuntutan dan beban hidup sebagai seorang single parent yang membuatnya harus rela bekerja lebih keras untuk memberikan kehidupan yang layak bagi buah hatinya. Harta paling berharga satu-satunya yang ia miliki.

“Taemin~ah.. waegure?” Selidik Hyuna. Menatap putra semata wayangnya dengan tatapan menyelidik.

“Aku tidak menyukainya umma, dia bahkan juga membenciku.” Tunjuk Taemin pada teman sekelasnya.

“Mianhe… ano, siapa namamu nak?” Menggenggam tangan Taemin dan membawanya mendekat, Hyuna bertanya pada namja yang bahkan sudah menunjukkan garis-garis ketampanan di usinya yang masih dini.

“Kim Myungsoo, Ommoniem. Aku teman sekelas Taemin” Jawabnya dengan wajah berbinar. Seperti anak kecil yang mendapatkan sekarung permen kesukaanya.

“Taemin, minta maaflah pada Myungsoo. Tidak baik memendam benci pada seseorang.” Nasehat Hyuna. Membuat Taemin semakin marah, merasa ummanya lebih membela Myungsoo.

Gwenchana ommoniem. Memang salahku karena sering mengganggu Taemin. Joasenghamnida.” Namja bermarga Kim itu meminta maaf dan membungkuk hormat.

“Aigoo… sopannya. Myungie, apa kau mau ikut dengan kami. Omoniem akan membelikan kalian eskrim.” Hyuna mengusap kepala Myungsoo membuat Taemin mengeratkan genggaman tangan sang umma. Tidak rela.

“Tapi… apakah tidak apa-apa?” Myungsoo kelihatan ragu –antara mau dan tidak. Menatap Taemin dengan wajah tak enak.

“Tentu saja, iyakan Taemin.” sahut Hyuna, berkedip pada Taemin agar setuju. Dan nyatanya Taemin memilih bungkam.

“Diam berarti iya. Lets go!” Putus Hyuna. Menarik lengan Myungsoo di tangan kiri dan menggandeng Taemin di tangan kanan. Berjalan menuju mobilnya, dengan sebelumnya menutup kembali payungnya karena merasa cukup menggunakan satu payung untuk bertiga.

 

OooO

 

 “Kenapa diam? Wae?? Marah pada umma?” Hyuna menyenggol lengan Taemin tersenyum menggoda, geli melihat anaknya yang sejak kembali dari kedai eskrim bersama Myungsoo menjadi pendiam. Dan terus saja memasang wajah cemberut..

Aigoo, Kyeopta!” Dengan gemas Hyuna mencubit pipi chubby anaknya yang bermarga Lee.

“UMMA!!” Tegas Taemin, menampik tangan ibunya dengan kesal.

Mengerutkan alis dengan bingung, wanita berusia akhir 20-an itu memutar tubuhnya menghadap Taemin setelah mematikan mesin mobil.

“Dengar sayang… memendam kebencian terhadap seseorang itu akan sangat melelahkan. Dan setiap kali kemarahan meluputi hatimu, di sini” Tangan Hyuna bergerak mengusap dahi lebar anaknya dengan wajah serius. “Akan tumbuh satu kerutan. Marah lagi, satu kerutan lagi begitu seterusnya. Nah, lama-lama wajahmu akan di penuhi kerutan dan menjadi tua sebelum waktunya.”

“Nanti, saat memasuki high school. Bisa-bisa kekasih kesayangan umma ini sudah menjadi kakek-kakek seperti Kakek Sooman tetangga kita dulu.” Taemin melirik ibunya dengan sedikit tertarik.

“Aku tidak mau jadi kakek-kakek seperti Lee Sooman harabeoji itu.” Lirih Taemin. menggeleng ketika membayangkan wajahnya di penuhi keriput seperti wajah tetangganya di Seoul dulu.

“Nah… kalau tidak mau seperti Sooman harabeoji. Menjadi tua. Taemin harus banyak tertawa. Nih, seperti umma.” Hyuna menunjukkan tawa lebar, kemudian menggelitik pinggang Taemin membuat namja kecilnya ikut terbahak. Dan kini, keduanya terbahak bersama. Melewati waktu demi waktu berdua, dalam kebahagiaan dan kesedihan yang silih berganti mengiringi.

 

OooO

 

Prittt!!!

Suara melengking dari lubang pluit yang dipegang guru olahraga yang kali ini berperan sebagai wasit pertandingan menjadi penanda bahwa adu skill football kelas Taemin dan Myungsoo sudah berakhir. Hasil akhir, grup Taemin kalah tipis dari kelompok Myungsoo yang menjadi rival abadi namja penggemar susu pisang itu secara tidak langsung.

Menarik diri dari kerumunan teman-teman yang mengekspresikan kemenangan mereka, Taemin memilih duduk di pinggir lapangan dengan keringat mengucur. Namja dengan rambut cepak berwarna coklat gelap dengan poni panjang khas itu mengusap peluhnya dengan tangan kiri. Tangan kanannya bergerak mengambil botol minum dari tas biru miliknya. Beberapa tegukan air memasuki tenggorokannya yang mengering. Belum selesai melepas dahaga, tiba-tiba seseorang merebut botol minum dari tangannya. Membuat beberapa tetes air membasahi kulit luar tenggorokan dan dadanya, hampir saja ia tersedak saking kagetnya.

“YA!!” Pekik Taemin jengkel. Dan makin naik tensinya saat mendapati Myungsoo sudah duduk manis di sampingnya. Menampilkan wajah tanpa dosa saat dengan santainya namja kecil bermarga Kim itu menenggak minuman miliknya.

Dengan kasar Taemin merebut botol miliknya. Dalam satu gerakan cepat dia membuang sisa air dari botolnya, menyiram kaki Myungsoo.

“Apa yang kau lakukan Lee Taemin!” Kaget Myungsoo. Dia tidak menyangka Taemin bisa semarah ini.

“Aku tidak suka berbagi minuman dengan siapapun termasuk kamu.” Sembur Taemin pedas. Menatap lawan bicaranya dengan tatapan berkilat. Wajah Myungsoo menganga, terperangah. Lalu, tiba-tiba berubah sendu.

“Lalu bagaimana kalau aku minta padamu untuk berbagi umma denganku. Aku menyukai ummamu, sangat menyukainya.” Setetes air mata mengalir di pipi Myungsoo, suaranya terdengar lirih namun tegas. Meski awalnya terkejut, Taemin langsung mendelik tak suka.

“Buagh!!” Dengan emosi Taemin mendorong tubuh Myungsoo sekuat tenaga. Membuat namja berambut hitam sekelam malam itu terjerambab di atas tanah.

Myungsoo bangkit, balas mendorong tubuh Taemin. Tak terima, namja yang menggunakan marga sang ayah itu memukul wajah Myungsoo dan akhirnya perkelahian tak terelakkan lagi.

“KIM MYUNGSOO! LEE TAEMIN! Berhenti” Gelegar seosangnim mereka dan mencoba melerai dengan sulit. Karena baik Taemin maupun Myungsoo sama-sama tidak ada yang mau mengalah. Keduanya masih berkeras untuk memukul satu sama lain. Dan hasilnya, di wajah mereka tercetak lebam biru di bagian pipi.

Dan berterima kasihlah pada perkelahian tadi, karena kini orang tua keduanya di panggil pihak sekolah untuk menyelesaikan masalah mereka.

.

.

.

“Paman Jinki, menurut paman. Apa yang akan di lakukan seosangnim saat memanggil umma.” Pertanyaan Taemin membuyarkan focus Jinki. Pria berusia awal tiga puluhan yang merupakan adik dari mendiang ayah Taemin, Lee Donghae itu mengalihkan matanya dari maket yang sedang ia kerjakan.

“Oh, jadi sekarang ibumu di panggil oleh sekolah. Memangnya apa yang kau lakukan Taem?” Jinki berdiri dari kursinya, berjalan menyusuri lantai kantornya mendekati keponakannya yang tidak terlalu beruntung itu. Kehilangan sang ayah saat ia masih balita.

“Tadi aku berkelahi dengan temanku saat olahraga.” Sahut Taemin lirih. Sedikit merasa bersalah begitu melihat kekecewaan yang tersirat  dari air muka sang paman.

“Ah… jadi begitu.” Jinki duduk di samping Taemin. Menyentuh pucuk kepala yang dihiasi rambut lebat berwarna kecoklatan. “Mungkin ibumu akan sedikit diberi masukan oleh gurumu. Yang jelas, ibumu pasti akan merasa sedih.” Lanjutnya.

“Tapi, ada alasannya kenapa aku memukul Myungsoo. Dia mengatakan sesuatu yang membuatku marah paman.” Elaknya membela diri. Berharap tindakannya bisa dimaklumi.

“Memangnya apa yang dia katakan. Apa dia meledekmu.” Jinki terlihat penasaran. Keponakannya yang biasanya pendiam dan datar ini bisa menunjukkan emosinya.

“Bukan” Geleng Taemin. “Dia memintaku berbagi umma dengannya. Tentu saja aku marah. Ummaku hanya satu, dan aku tidak mau berbagi dengan siapapun.” Lanjutnya dengan berapi-api.

Jinki terkekeh. Gemas sekali melihat ekspresi keponakannya ini. Ternyata di balik sikapnya yang terkesan cuek, ternyata Taemin begitu menyayangi ibunya.

“Paman rasa, ibumu pasti akan bangga mendengar pembelaanmu. Dia tidak akan marah berlarut-larut nantinya. Walaupun tidak di benarkan, terkadang sebagai lelaki kita perlu untuk berkelahi untuk mempertahankan apa yang kita miliki. Paman salut dengan keberanianmu Taemin.” Puji Jinki. Menepuk bahu Taemin dengan bangga.

Pelajaran yang Taemin dapat hari ini, walaupun berkelahi itu salah tapi sebagai namja sekali-kali dia harus berkelahi untuk membela diri dan membela orang-orang yang ia sayangi terutama ibunya.

 

 

@@@

Kriet!!

Suara daun pintu yang berderit membuat dua orang yang duduk berhadapan di sebuah meja guru tak jauh dari pintu yang kini masih dipegang Hyuna sebelahnya itu menoleh serentak. Membungkuk sejenak, Hyuna menyambut sapaan wali kelas Taemin. Go Hara, teman seangkatan Hyuna saat High School dulu.

“Hai… yeogi wasso?” Sapa Hara, meninggalkan fomalitas antara wali murid dan pendidik. Tersenyum lebar, Hara meminta Hyuna duduk di samping seorang namja yang disinyalir adalah wali murid dari teman berkelahi Taemin tadi pagi.

“Mianhe Hara~ya… sedikit terkena macet tadi.” Balas Hyuna, membalas senyum Hara dan duduk di kursi.

“Tak kusangka, kita bertiga akan bertemu di sini.”

“Maksudnya?” Alis Hyuna mengkerut, tak paham dengan ucapan teman sekelasnya saat tingkat dua.

“Sapalah pria di sampingmu.” Pinta Hara. Bersamaan dengan kepala namja yang duduk di samping Hyuna.

Oremaniya. Kim Hyuna.”

“KAU!” Pekik Hyuna terkejut. “Kim Kibum?” Mata sipit Hyuna melebar. Tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.

“Benar apa yang di katakana Hara, kau tidak berubah sama sekali.” Key tersenyum lebar. Meneliti wajah Hyuna lamat-lamat. Gadis yang dulu teman satu kelompok belajarnya dari tingkat dua sampai mereka lulus High School di Youngshin High School.

“Baiklah, tuan dan nyonya. Cukup basa-basinya. Sekarang biarkan wali kelas anak kalian ini berbicara.” Hara berdeham meminta perhatian. Menegakkan bahunya dengan sikap formal.

“Hyuna, ini pertama kalinya Taemin terlibat perkelahian. Dan kurasa, dia punya alasan kenapa sampai memukul Myungsoo. Dari apa yang kulihat selama ini, aku percaya Taemin bukan type yang mudah menumpahkan emosinya, bahkan cenderung pendiam dan dingin.” Jeda sejenak, Hara menatap wajah Hyuna untuk melihat reaksinya. “Tapi, sayangnya baik Taemin maupun Myungsoo menolak untuk menjelaskan alasan mereka sampai berkelahi. Di paksa seperti apapun, mereka kompak untuk bungkam. Jadi, sebagai jalan tengahnya, aku memberikan tugas untuk mereka berdua agar membuat karya seni yang dikerjakan bersama.”

“Dan untukmu Key, kurasa Myungsoo melakukan ini untuk mencari perhatian Taemin. Entah kenapa, sejak ia pindah 2 ke sini 2 bulan lalu. Kulihat, Myungsoo senang sekali menggoda Taemin. setiap hari, ada saja yang ia lakukan untuk membuat Taemin menatapnya. Dan mungkin puncaknya adalah hari ini.”

Key melirik Hyuna sedikit bersalah. Mendengar ucapan Hara barusan, bisa dilihat kalau Myungsoo yang memang mencari gara-gara. Dan melihat dari sifat Myungsoo, Key langsung percaya dengan penjelasan Hara. Yah, putranya itu memang hyperaktif dan sedikit jahil. Dia akan melakukan segalam hal untuk mendapatkan sesuatu, termasuk perhatian dari orang-orang disekitarnya.

.

.

.

“Maaf Hyuna… karena Myungsoo, Taemin jadi begini.” Pinta Key saat keduanya keluar dari ruangan Hara. Berjalan berdampingan menuju parkiran.

“Tidak apa-apa. Namanya juga anak-anak. Kuharap mereka mengambil pelajaran dari kejadian.” Hyuna tersenyum maklum. Menolehkan kepalanya untuk menatap wajah Key.

“Senang rasanya melihatmu lagi, setelah hampir sepuluh tahun kita berpisah.” Lanjut pria bermarga Kim itu. Menghela nafas lega seraya menopang tangan di atas kepala. Langkahnya masih selaras dengan ketukan sepatu flat shoes milik Hyuna.

“Kau menghilang semenjak lulus sekolah. Benar kau menetap di Jepang dan Amerika Key?”

“Yah… begitulah!” Diam sejenak. “Keluargaku sering berpindah-pindah semenjak aku lulus High School. Dan baru beberapa bulan ini aku kembali ke Daegu.” Saat ingin melanjutkan ucapannya, tiba-tiba ponsel hitam milik Key bergetar dari saku jas yang ia kenakan. Masih beriringan, tiba-tiba Key berhenti. Dan berbalik menahan langkah Hyuna.

“Hm… sepertinya aku harus pergi. Aku meeting penting. Kuharap kita bisa bertemu kembali Hyuna.” Ujar Key diiringi senyum kecut. Merasa tidak rela untuk berpisah dengan sahabat lama.

“Yah semoga…”

“Boleh aku memelukmu Hyu?” ijin Key.mendekat satu langkah.

“Kenapa tidak!” Sahut Hyuna, ikut mendekat dan memeluk tubuh tegap kapten tim basket pada masanya dulu. Dan keduanya berpelukan untuk melepaskan kerinduan. Sebuah pelukan yang akan membuka lembaran-lembaran kisah hidup yang mulai bersinggungan. Tak lama kemudian, pelukan mereka terlepas. Key berjalan sedikit tergesa  meninggalkan Hyuna dengan satu kenyataan bahwa keduanya melupakan sebuah sarana komunikasi yang cukup penting. Keduanya lupa bertukar nomor telepon.

 

OooO

 

 

“Kim Myungsoo! Duduklah di sini!” Perintah Key pada anaknya dengan suara tegas. Menarik kursi di depannya yang berbatasan langsung dengan living room. Jam dinding di tembok menunjukkan pukul Sembilan lewat. Dan Key baru saja pulang dari kantornya. Meeting-nya cukup menyita waktu seharian. Dan lagi, dia mendapati anaknya sedang asyik bermain game di depan layar televise besar.

“Tidak mau, aku lelah appa. Besok pagi saja.” Tolak Myungsoo malas. Sepertinya sudah bisa menebak arah pembicaraan appanya. Tangannya masih sibuk memencet tombol pada stick.

“APPA BILANG DU-DUK!” Ulang Key dengan intonasi lebih tinggi. Memaksa Myungsoo mau tidak mau agar mematuhi ucapannya. Menaruh joy stick di lantai, Myungsoo berjalan mendekati Key. Masih belum duduk, hanya berdiri dengan tangan memegang sandaran kursi.

“Jadi, apa pembelaanmu. Katakan pada appa dan appa akan mempertimbangkannya. Karena seosangnim bilang bukan kamu yang memulai. Namun, tentu saja appa harus mendengarnya langsung darimu.”

“Memang Taemin yang memukulku duluan. Tapi aku yang membuatnya marah. Aku meminta sesuatu padanya.” Jawab Myungsoo dengan jujur.

“Benar begitu?” ketegangan di wajah Key menurun. “Lalu, apa yang kau minta?”

“Aku minta dia berbagi air minum sekaligus berbagi ummanya denganku.” Tutur Myungsoo, kali ini dengan suara lebih jelas. Dan menekankan kata umma dengan keras.

“Mwo?? Berbagi umma?” Pekik Key tak percaya. Apa anaknya sudah gila, pantas saja Taemin marah besar.

“Iya, aku minta Taemin berbagi umma denganku. Karena aku juga ingin seperti Taemin. Dan menurutku, Umma Taemin itu sangat baik.” Ada sebuah harapan yang tersembunyi di balik jawaban polosnya.

“Kenapa kau harus bilang begitu, tentu saja Taemin marah. Kim Myungsoo, bukankah kau sudah berjanji pada appa sebelum kita kembali ke Korea. Myungsoo tidak akan membuat appa bersedih. Tapi kenapa sekarang kamu melanggarnya.” Gusar Key. Menatap wajah putranya yang kini menunduk. Jarinya terjalin dan mengepal dengan erat.

“AKU INGIN PUNYA UMMA!!” Teriak Myungsoo tiba-tiba dan berdiri dari kursinya.

“AKU BENCI, KARENA SEMUA TEMANKU SELALU MEMBANGGAKAN UMMA MEREKA.” Kerasnya lagi. Berjalan menjauhi meja makan menuju kamarnya. Menghempas daun pintu kamarnya. Menghalangi langkah appanya yang berniat mengejar.

“AKU INGIN SEPERTI TAEMIN YANG PUNYA UMMA. AKU INGIN SEPERTI TEMAN-TEMANKU YANG LAIN” Jeritnya lagi disertai isakkan. Tubuhnya merosot, bersandar di pintu bercat putih yang menutup kamarnya. Duduk memeluk lutut dengan air mata yang menderas di pipinya.

Hati Key mencelos, melihat kesedihan sang putra. Bisa ia dengar isakkan Myungsoo yang tersembunyi dari balik pintu. Sakit, sangat sakit rasanya melihat kesedihan putra semata wayangnya itu. Seperti ia ingin ikut menangis. Dalam Sembilan tahun ini, baru kali ini dia melihat kesedihan mendalam yang tersirat dalam isakkan anaknya. Yah, menurutnya Myungsoo adalah sosok anak mandiri yang ceria. Hal itu membuatnya percaya bahwa Myungsoo tak keberatan dengan kondisinya yang tanpa ibu. Kenyataan bahwa Myungsoo beberapa kali menolak yeoja-yeoja yang pernah dikenalkan Key padanya menambah keyakinnya untuk tetap menduda selama ini.

Dan malam itu, kedua namja bermarga Kim itu menghabiskan waktu dengan kebisuan. Myungsoo menjadi lebih pendiam dan dingin esok paginya.

.

.

.

“Ayo Taemin, Umma poppo.” Menunjuk pipinya.

Chup~

“Lagi, disini” dahinya, taemin menurut.

“Ini belum.” Taemin langsung melengos saat Hyuna meminta di cium di bibirnya.

“Aigoo, bahkan dulu Taemin suka sekali mencuri ciuman umma disini.” Dan tiba-tiba Hyuna mencium pipi Taemin kilat.

Ouwhg…

Jeritnya sakit.

“Kenapa sayang?”

“Umma mencium pipiku yang di pukul Myungsoo tadi siang.”

Mengulas senyum paham, Hyuna mendekatkan wajahnya pada Taemin.

“Coba umma lihat. Appa-ga? Jeongmal appa?”

“Ne… jongmal apayo~” Bergumam lirih, Taemin menundukkan wajahnya. Sedikit merasa bersalah.

“Ehm, sekarang baru terasa sakitnya bukan.” Hyuna menarik dagu Taemin, meneliti senti demi senti dari lebam biru keunguan di wajah mulus anak semata wayangnya itu. Wajahnya terlihat begitu khawatir. Membuat Taemin terperangah.

“Umma tidak marah?”

“Wae… kenapa umma harus marah.” Mengangkat tubuhnya dari sofa, Hyuna berjalan menuju dapur di iringi tatapan lekat Taemin, penasaran.

Beberapa menit hening. Dengan setia, Taemin masih memandangi umma-nya begitu lekat. Hingga kini berjalan kembali sembari membawa baskom dan kain lap.

“Umma pikir, anak laki-laki kebanggaan umma pasti punya alasan kenapa dia melakukan itu.” Menaruh baskom di hadapan Taemin, Hyuna duduk dengan tenang. Mengulas senyum keibuan.

“Jadi, kenapa uri Taemin memukul Myungsoo.” Kini, sebelah tangan Hyuna mencelupkan kain kedalam air hangat. Lalu, menarik wajah Taemin dan mengusapnya dengan lembut.

“Karena aku membencinya.”

Tubuh Taemin menegang.

“Bukannya umma sudah bilang, membenci seseorang akan melelahkan. Cobalah berteman dengannya. Umma pikir, Myungsoo menjahilimu karena dia sedang mencari perhatian. Lagipula, umma lihat Taemin tidak terlalu banyak teman.” berhenti sejenak, wanita berambut panjang itu mengangkat wajahnya. Menyusuri raut wajah tidak suka yang tercetak di air muka anak laki-lakinya itu.

“Akan sangat menyenangkan kalau kita bisa mempunyai banyak teman. bercanda, makan bersama dan tertawa bersama.” Lanjutnya lagi.

“Aku tidak suka berteman.” Sahut Taemin apatis. Menampilkan wajah datar.

“Mwo? Bukannya Taemin bilang ingin menikah dengan gadis cantik seperti Jiwon noona. Lalu, bagaimana kau akan menikah jika tidak mempunyai teman.”

“Aku bisa hidup sendiri.” Tegas Taemin, membalas tatapan Hyuna keras.

“Apa maksudmu Taemin, ketika dewasa nanti kau akan kuliah, bertemu dengan orang-orang baru. Menemukan seorang kekasih, lalu menikah dan hidup bersama. Tidak selamanya umma bisa menemanimu.” Hyuna mencoba bersabar.

“Aku bisa hidup sendiri tanpa bantuan umma.” Sahut Taemin cepat. Bahkan terlalu cepat. Membuat Hyuna terperangah tak percaya. Rasanya ada sesuatu yang menusuk perutnya dengan cepat. Menyebarkan rasa sakit hingga matanya berkaca-kaca.

Bibirnya sedikit bergetar saat ia membuka mulut untuk berbicara.

“Apa kau tahu rasanya hidup sendiri.” Tenggorokannya tercekat.

“Tentu saja.” Kini wajah Taemin berubah serius. Membalas setiap kata yang di lontarkan sang ibu. “Aku biasa mandi sendiri, mengerjakan PR sendiri, makan sendiri. Menunggu umma sendiri dan tidur sendiri. Tentu saja Taemin bisa hidup sendiri.”

Sakit, rasanya semakin sakit mendengar ucapan anaknya barusan. Bahkan kini, di sudut matanya telah mengembun. Air mata yang sedikit lolos dari pengamanan kelopak mata.

“Itu… karena… umma, sibuk.” Mengalihkan tatapannya, suara Hyuna makin terdengar bergetar. Menahan isakkan tangisnya yang sudah tidak terbendung. Ia sadar, bahwa selama ini terlalu sibuk dengan pekerjaannya di butik.

“Kalau begitu sibuk saja terus. Aku bisa mengurus diriku sendiri. Jadi umma jangan khawatir.” Entah apa yang membuat Taemin menjadi sedikit marah.

“Bagaimana umma tidak khawatir, kalau terjadi apa-apa denganmu—“ belum selesai ucapan Hyuna Taemin sudah memotong.

“Biar Paman Jinki dan Paman Jonghyun yang mengurusku. Mereka lebih perhatian padaku.” Ketus Taemin lagi. Menarik wajahnya menjauh dari jangkauan tangan ummanya.

“Apa?”

“Kenapa umma tidak marah padaku sekalian, karena aku berkelahi dengan Myungsoo.” Kejar Taemin. Semakin kesal. Membuang kain lap yang menempel di pipinya.

“Baiklah kalau itu maumu, sana tinggal dengan pamanmu.” Suara Hyuna tersendat. Memalingan wajahnya, menahan tetes demi tetes air mata yang mengalir menganak sungai. Tanpa permisi, wanita berusia akhir 20-an itu meninggalkan kursinya dan berlari menuju kamar.

“Tuhan!! Sakit sekali rasanya.” Rintih Hyuna. Meremas dadanya penuh kesakitan. Tubuhnya merosot, bersandar di daun pintu yang sepenuhnya sudah tertutup. “Taemin~ah! Apa yang harus umma lakukan.” Seraknya lagi. Kemudian, Hyuna menghentikan tangisnya. Seperti mengingat sesuatu. “Umma harus menemanimu selalu Taemin. waktu umma tidak lama lagi” Gumamnya seraya menghapus air yang menggenang di pipinya. Memperbaiki ekspresinya dengan memaksakan senyum sebelum membuka lagi pintu kamarnya.

Menatap punggung Taemin dalam-dalam. Hyuna menghela nafas panjang. Tatapan matanya begitu sarat kasih. Bahu kecil yang ia rengkuh selama Sembilan tahun itu terlihat bergetar.

Mianhe umma.” Suara serak yang disertai tangis itu meruntuhkan pertahanan Hyuna, air matanya kembali turun. “Taemin ingin terus bersama umma sampai dewasa.” Tangis Taemin semakin tak terbendung. Menangis tanpa berani menoleh pada ibunya.

“Taemin~ah..” Dan dalam satu langkah cepat, Hyuna memeluk Taemin. merengkuhnya dengan erat. Kedua ibu dan anak itu menangis bersama dalam pelukan. “Umma neomu saranghae.”

 

 OooO

 

Lantai tiga sebuah gedung agensi pemotretan terlihat ramai. Lalu lalang manusia berseliweran dengan cepat. Jam setelah makan siang merupakan jam-jam sibuk dan padat. Mengejar dateline agar bisa selesai tepat pada waktunya.

“Eonni, ini yang terakhir. Pemotretan iklan koleksi terbaru kita.” Ujar Hyuna disela kesibukannya merapikan gaun putih panjang yang dikenakan seorang model yang tengah bersiap. Tak jauh darinya, sang pemilik brand tempat dia bekerja selama hampir lima tahun itu hanya mengangguk. Tak kalah sibuk menata beberapa perlengkapan dan aksesoris penunjang lainnya. Iklan, adalah salah satu upaya krusial untuk menarik pelanggan.

“Hei… kau sedang buru-buru Na~ya?” Selidik Hyunsoo –pemilik butik tempat Hyuna bekerja. Merapikan satu set jepit rambut lalu mendekat pada adik tingkatnya di perguruan tinggi dulu.

“Iya….” Sahut Hyuna dengan senyum. Menepukkan pundak si model yang dibalut dengan tali tipis yang menggantung dari bawah dada sampai punggung belakang.

“Nah, selesai. Silahkan Eunhye~ssi.” Menyuruh sang model untuk melanjutkan pemotretan.

“Tidakkah kau menungguku sebentar saja?” Tahan Hyunsoo. “Ada yang ingin kukenalkan padamu, lihat model pria di sana?” Memutar badan Hyuna yang berdiri di hadapannya. Hyunsoo menunjuk pria tinggi berparas tampan yang mengenakan tuksedo hitam.

“Dia duda tanpa anak yang ditinggal istrinya keluar negeri. Kurasa kalian cocok.” Lanjutnya.

“Aigoo… eonni.” Menggelengkan kepala dengan geli, Hyuna tak menanggapi ucapan bos-nya. Bukan sekali dua kali, bosnya yang menjadi nyonya Park karena menikahi MC tenar bernama Park Jungsoo itu berupaya menjodohkannya dengan beberapa namja yang ia kenal.

“Dan asal eonni tahu, dia itu” Dagu Hyuna menunjuk laki-laki yang menjadi topic pembicaraan mereka, mengangguk sekilas saat tapapan mereka bertemu. “Choi Minho, teman sekolahku saat High School.” Kikik Hyuna di akhir kalimatnya, berkelit dengan lincah dari cekalan Hyunsoo dan mengambil tasnya buru-buru. “Aku pergi nyonya Park.” Pamitnya.

“Minho~ya… duluan ne.” mengerling pada Hyunsoo saat ia juga berpamitan dengan Minho, dan tawanya tak bisa disembunyikan lagi saat ia melihat ekspresi Park Hyunsoo. “Hahaha… dasar Eonni” gumamnya saat menutup pintu.

.

.

.

Taemin melenguh dengan lelah. Matanya tak berkedip saat melihat pergerakan boneka-boneka manusia yang lucu berseliweran di atas panggung. Drama musical anak-anak dengan tokoh super hero dari marvels juga Disney.

“Lihat umma, Tyni. Eh, Itu Spiderman.” Tunjuk Taemin antusias. Ikut melambaikan tangan saat sosok super hero kesayangannya berada tidak jauh di sudut tempat ia berdiri. Di sampingnya, Hyuna ikut tersenyum. Lalu mengusap kepala Taemin penuh kelembutan, bahagia rasanya bisa melihay senyum merekah di bibir namja kesayangannya.

Lalu, matanya berputar. Menyapu dalam jarak pandang yang cukup luas. Hingga tak sengaja matanya menangkap sosok mungil yang ia kenal dengan baik. Hyuna melihat Myungsoo duduk sendiri di barisan depan di samping kursi kosong. Kentara sekali bahwa Myungsoo tengah menekuk wajahnya dengan sedih. ‘kemana ayahanya?’ batin Hyuna. Akhirnya Hyuna mengalihkan sudut pandangnya lagi karena Taemin kembali menyita perhatiannya.

Setengah jam kemudian, pertunjukkan selesai. Menggandeng lengan Taemin, wanita berambut panjang itu berjalan mengikuti rombongan besar yang mengular di depan exit door.

“Umma, apa kita akan langsung pulang?”

“Terserah Taemin. apa mau makan dulu?” Tawar Hyuna. Keduanya berjalan beriringan saat kakinya menjejak di luar ruang pertunjukkan. Masih berpegangan tangan, Taemin berjalan menarik sang umma dengan langkah riang menyusuri koridor gedung besar yang terletak di kawasan Deongseongno. Sesekali ia melompat-lompat kecil. Terlihat begitu bahagia.

“Yah… kenapa hujan Umma.” Desah Taemin kecewa. Melihat genangan air hujan yang membasahi jalanan. Langkahnya terhenti di depan gedung dengan kaca jendela raksasa. Bibirnya mencebik. Menandakan kalau mood-nya langsung berubah.

“Sabar, kita tunggu saja sebentar sayang. Hujannya tidak akan lama.” Hyuna merapatkan tubuh mereka. Memeluk bahu Taemin untuk mengusir angin dingin yang mulai berhembus.

Dengan berat hati, Taemin menyetujui usulan ummanya. Menunggu, memang sesuatu yang sangat menyebalkan. Kini, kedua ibu dan anak itu hanya terdiam memandangi rintikan air hujan yang berjatuhan. Kilaunya membiaskan sinar Kristal yang terlihat memukau di mata seorang Kim Hyuna.

“Umma…”

Tarikan Taemin pada ujung dress hijau yang dipakainya melunturkan lamunan Hyuna.

“Wae?”

“Bukannya itu Myungsoo?”

Hyuna mengikuti arah telunjuk Taemin. di sana, ia melihat sosok Myungsoo tengah berdiri di bawah guyuran hujan yang semakin menderas. Sepertinya, sudah cukup lama namja kecil itu terkena air hujan. Dilihat dari bajunya yang sudah basah kuyup. Dan, apa yang di lakukannya. Berdiri tak bergeming di depan trotoar jalan.

“Taemin, tunggu di sini sebentar. Umma mau melihat Myungsoo.”

“Aku ikut umma.” Rengek Taemin, menahan baju sang umma yang siap beranjak.

“Tapi Tae, masih hujan.” Bujuk Hyuna.

“Shirroe… Taemin ikut kesana.”

Sadar tak bisa mencegah keinginan Taemin, Hyuna melepaskan cardigan yang ia pakai.

“Baiklah, pakai ini sayang.” Dengan tergesa, Hyuna memayungkan kardigannya di kepala Taemin menghalangi air yang jatuh langsung di kepala aegy-nya.

Cuaca sekarang benar-benar tidak bisa di tebak. Tadi saat berangkat langit masih cerah bahkan cenderung panas namun kini hujan deras mengguyur hampir seluruh kota Daegu. Yah, daerah Daegu yang di kelilingi perbukitan termasuk salah satu wilayah panas di Negara Korea. Jadinya, ia hanya memakaikan kaos pendek bergambar angry bird pada anaknya. Tanpa jaket ataupun hoodie.

Lalu, keduanya menerobos hujan. Melintasi halaman gedung menuju trotoar temapat Myungsoo berdiri.

“Kim Myungsoo!!” Panggil Hyuna keras. Menarik bahu namja mungil itu dan membaliknya berhadapan. Kini, wanita yang sekarang memakai kembali marga keluarganya sebelum menikah dapat melihat jelas raut sendu di wajah Myungsoo. Rambut hitamnya menjuntai lemas bercampur air hujan yang menetes menuruni sela-sela kulit wajah mulusnya. Kedua belah bibirnya mulai Nampak bergetar kedinginan.

“Ommoniem…” ujar Myungsoo lemah. Dan tiba-tiba namja kecil itu menubruk tubuh depan Hyuna dan memeluknya erat.

“Aku benci appa!” Isaknya memilukan. Mencengkram pinggang umma Taemin kencang.

Hyuna menggigit bibirnya dengan bingung juga panick. Mendapati anak teman sekolahnya menangis sesunggukan seperti ini. Balas memeluk Myungsoo seraya menatap Taemin di sampingnya. Putra semata wayangnya hanya menggeleng dan mengendikkan bahu saat Hyuna bertanya melalui mimic wajah. Seolah berkata ‘Taemin tidak tahu appa-appa umma’.

“Boleh Myungsoo ikut ommoniem. Jebal!” selang beberapa menit, isakkan Myungsoo mulai melemah. Bocah tampan dengan lesung pipit itu mengangkat wajahnya, menampilkan wajah memelas seolah dia adalah anak paling menderita di dunia. Seperti anak-anak korban perang di wilayah timur tengah.

Tak kuasa menolak, Hyuna hanya bisa menganggukkan kepala dua kali. Jemarinya bergerak untuk mengusap air mata yang mengalir di pipi Myungsoo.

“Ne… tentu saja Myungsoo boleh ikut.” Tersenyum manis, “Uljima sayang. Rumah Taemin terbuka lebar untukmu. Kajja, kita pulang dan berganti baju. Taemin tidak akan keberatan meminjamkan baju untukmu.”

Mendengar ucapan Hyuna barusan, Taemin langsung merengut seketika. Sedikit tidak terima saat ia berjalan mengikuti langkah ibunya bersama Kim Myungsoo. Bocah yang ia anggap seteru abadi tanpa menyadari si empunya nama tengah menyeringai dalam langkahnya. Yah, seorang Kim Myungsoo akan selalu mendapatkan semua keinginannya.

 

Bersambung~

 

 

 

Note. Ampuuun dah!!! Niatnya buat kado ultah Nae sarang Kibum. Tapi, lagi-lagi harus molor dari dateline, Benar-benar pekerjaan mengalihkan duniaku. Mana jadinya harus TBC lagi… Key sayang, maafkan saya. #pelukKey. dan buruknya, ga tau kapan bisa update lagi, Hu huuu~ T.T

Oke, bicara so’al fict ini, ada yang pernah nonton drakor ‘Wedding Dress’ gak?? Ini di adaptasi dari drakor itu tapi tetep dong ujung-ujungnya penuh perombakan besar-besaran. Hahahaaa.

And last, yang mau koment, nanya, curhat atau ngflame silahkan di masukkan ke kotak komentar. Atau yang mau complain tentang ke gajean saya juga boleh. Wkwkkw apapun sikonnya, SELAMAT ULANG TAHUN KIM KIBUM!!!!!!!!!

 

 

Sekedar info :

Lee Hyuna / Kim : 29 tahun.

Lee Taemin : 8 tahun.

Kim Myungsoo : 8 tahun.

Kim Kibum : 29 tahun.

Lee Jinki : 31 tahun /adik ipar

Kim Jonghyun : 30 tahun / kakak Hyuna.

Lee Donghae : 37 tahun ( RIP )

 

 

 

Komentar
  1. Hyora Kim berkata:

    whoa..whoa..
    Ada Soo2 couple di sini..
    Seru nii..
    Mudah2an lanjutannya cepet..
    Hahaha..

  2. kiyuroo berkata:

    baru sempet baca.
    dan lagi aku harus muji karya mu.
    keren chinguuu hihi.

    key.a nanti nikah sama hyuna kan?
    trus hyuna knapa th? ko kta.a wktu dy ga lama?
    cepet d update yaaaaaaa

  3. Nunadk berkata:

    Whoooaaa…
    Liat versi Aslinya Wedding Dress mah bikin nangis bombay..
    Yg ini masih tahap pengenalan karakter tokoh kan vi?

    Xixixi…
    Td kog ada nama Sora nyelip..

    Ditunggu part selanjutnya y say…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s