Undiscloser Desire Part 9

Posted: Agustus 26, 2012 in Fanfiction
Tag:, , , , , , , ,

Tittle : Undiscloser Desire

Author : ViKey…………

Maincast : Kim Jonghyun,Lee Hyukyung,Kim Yoogeun.

Support cast : Key, Han  Yoora, SHINee member.

Genre : Romance,Marriage Life,Friendship,family.

Rate : PG 16

 Summary : Apa kau berpikir untuk membiarkan Yoora mengambil Yoogeun dari kita. Karena kau merasa sekarang sudah memiliki pengganti Yoogeun dengan adanya bayi yang tengah kau kandung saat ini. Karena kau lelah mengurus Yoogeun yang jelas-jelas bukan anak kandungmu

PART 9 : Unbelieve

Dengan tubuh sedikit tegang, Taemin berdiri dari duduknya, berjalan menuju Minho lalu. . .

“Buk!!”satu pukulan mendarat dipipi mulus namja jangkung itu.

“Itu untuk air mata Hyuna Noona!”teriak Taemin, menatap Minho dengan begitu tajam. Namja yang biasanya terlihat imut itu kini tampak begitu manly. Keras dan dingin dengan brown eyes tepat mengarah pada Minho.

“Taemin. .” pekik Hyuna, sedikit berlari meninggalkan altar sembari mengangkat gaun panjangnya. Merangkul lengan Taemin, berusaha menenangkan sang dongsaeng yang sepertinya masih ingin kembali melayangkan pukulan.

“Tenanglah Taeminnie. . Biar noona yang selesaikan ne?. . Gwenchana!” ujar Hyuna pelan, menatap wajah Taemin dengan lembut, hingga ekspresinya kembali tenang.

“Minho. . Ikut aku!” Hyuna berbalik menghadap Minho yang tengah menyusut ujung bibirnya yang sedikit berdarah.

“Na-ya. .” suara Key menghentikan langkah Hyuna, kembali berbalik hingga matanya bertemu dengan sepasang mata kucing yang menatapnya dengan was-was.

“Tunggu aku. . Pastikan bahwa aku akan kembali untukmu.” sahut Hyuna, berjalan mendekat kearah Key yang sepertinya takut bahwa Hyuna akan meninggalkannya.

“Aku percaya padamu Na-ya?!” balas Key, akhirnya menyunggingkan senyuma saat Hyuna mengusap pipinya begitu lembut.

***

“Jadi. . Tuan Choi, apa yang ingin kau sampaikan padaku?” begitu dingin, suara Hyuna terasa dingin hingga Minho bisa merasakannya. Hatinya menggigil, sakit mengetahui ada begitu lebar jarak yang membentang diantara mereka.

“Kumohon Na-ya. . Batalkan pernikahanmu dengannya. Aku tak bisa kehilanganmu, dan menikahlah denganku. Bahkan jika saat ini kita menikahpun aku siap.” Suara Bass Minho terdengar begitu lemah. Menahan sesak yang teramat mengendap dihatinya.

“Tidak bisa Minho. Kau pasti sangat tahu diriku, sesuatu yang sudah kuputuskan tak akan ku batalkan.” balas Hyuna.

“Tapi kau tidak mencintai Key, yang kau cintai itu aku. Choi Minho! Not Kim Kibum!” Teriak Minho semakin frustasi, mengguncangkan tubuh Hyuna sedikit keras. Memaksa kedua mata itu bertemu pandang. Mata elang Minho menatap nanar pada dua bola mata Hyuna yang terlihat begitu keras kepala, dingin seolah menantangnya. Tak ada lagi tatapan hangat untuknya seperti dulu.

“Apa kau pernah mendengar, bahwa jodoh belum tentu orang yang kita cintai. Ok, aku memang mencintaimu. Tapi bukan berarti aku harus menikah denganmu. Tidak saat kau memilih mengacuhkanku dan menerima perjodohan itu. Apa kau tahu apa yang kurasakan, disini. Didalam hati ini terasa begitu perih. Aku sakit Minho. Dan aku bukan orang bodoh yang akan mengambil resiko menerima sakit lebih dari ini jika tetap bertahan bersamamu. Karena kau tak punya cukup tekad dan keyakinan.” Hyuna Memalingkan wajah, menepis lengan Minho dari tubuhnya.

“Satu hal yang perlu kau tahu, Bahwa Key lebih baik darimu karena dia memiliki tekad dan keberanian untuk menikah denganku. Jadi, kumohon jangan muncul lagi dihadapanku.”Hyuna sedikit memejamkan mata saat mengatakan kalimat terakhirnya. Tak bisa dipungkiri, hatinya juga sakit harus mengatakan hal yang kejam pada Minho.

Walau bagaimanapun dia pernah -atau mungkin masih- mencintai namja bermata belo itu. Jika bukan karena janjinya pada Key, mungkin Hyuna sudah menangis tersedu saat ini. Yah, mengingat nama Key mampu membuatnya kuat. Melangkah dengan pasti meninggalkan Minho. Yah, meninggalkan masa lalu, berharap akan menyongsong masa depan cerah yang telah dipilihnya.

Dengan penuh keyakinan, gadis itu berjalan menuju altar. Berdiri disamping Key, tersenyum tulus sebelum menggenggam tangan Key dengan erat.

“Saya Bersedia!” ucap Hyuna lantang. Menggema diruangan begitu dia mengucapkan sumpah setia yang akan mengikatnya kepada seorang bernama Kim Kibum selamanya. Meski tahu, bahwa diluar sana seseorang bermarga Choi tengah mengurut dadanya yang terasa perih. Saat menyadari tak ada lagi harapan baginya, hanya mampu merutuki kebodohannya atas ketidakberaniannya menentang perintah orangtua.

***

Suara musik lembut terdengar begitu memanjakan telinga, mengiringi langkah pelan Hyuna dan Key yang kini menggerakkan badannya dilantai dansa. Key memeluk pinggang Hyuna begitu erat, hanya terdiam dalam tautan mata. Seolah berinteraksi dengan bahasa tatapan lembut keduanya.

Tak jauh dari mereka, pasangan Jinki dan Hyejin, juga Jonghyun-Hyukyung yang terlihat begitu mesra. Seolah dunia hanya milik berdua, bahkan sedikit terlupa pada Yoogeun yang kini berjalan menjauh dari kerumunan. Berhasil melepaskan diri dari pengawasan Nyonya Kim -ibu dari sang memepali pria- yang kini sibuk berbincang dengan salah satu tamu undangan , terlihat begitu bangga melihat putranya akhirnya menemukan belahan jiwanya.

Yoogeun berjalan semakin keluar, seolah tahu bahwa tak baik jika mengganggu bumoniemnya yang tengah menikmati waktu berdua. Yeah, smart boy euhm. Namja mungil itu terlihat begitu asyik menikmati hiasan bunga dengan mimik penasaran saat seseorang menggumamkan namanya sedikit keras.

“Yoogeunie. . .”

namja mungil itu menoleh, menemukan seorang wanita mendekatinya

“Yoogeunni. .” semakin mendekat, wanita itu kini menjajarkan wajahnya dengan Yoogeun. Berusaha menahan rasa harunya saat menatap Yoogeun.

“Anyoeng. . Ahjumonie kenal Yoogeun ne?” menatap wanita itu dengan heran, mata bulat Yoogeun mengerjap. Lalu semakin membulat terkejut saat wanita itu tiba-tiba memeluk tubuhnya dengan erat.

“Yoogeunni. . Boghosippo. Joengmal” wanita itu menangis dan bergetar, membuat tubuh Yoogeun ikut bergetar.

“Uljima. . Uljima ahjumonie. .” kata Yoogeun. Mengusap punggung wanita asing itu meski matanya masih menyiratkan kebingungan.

“Huks. . Huks. .Yoogeunni. .” wanita itu melepaskan pelukan ditubuh Yoogeun dan memandangnya dengan air mata yang merebak.

“Uljima Ahjumonie. . Umma Yoogeun bilang kalau sudah besal, tidak boleh nangis.” bertindak seperti orang dewasa, Yoogeun mengeluarkan saputangan yang selalu Hyukyung selipkan disalah satu saku celananya lalu menyeka air mata yang mengalir dipipi wanita asing. Ck, benar-benar smart boy.

“Yoogeunnie. . .”  usapan Yoogeun terhenti saat mendengar suara Jonghyun memanggilnya.

“Appa. . Itu appa. Ahjumonie jangan sedih lagi Ne. . Nanti Yoogeunie kenalkan pada Appa Yoogeun yang paling tampan dan umma Yoogeun yang paling baik sedunia.” tersenyum begitu menggemaskan, saat Yoogeun memamerkan deretan gigi susu mungilnya yang terawat dengan baik.

“Appa. .! Appa. .! Yoogeuni disini!” melambaikan tangan begitu melihat appa-nya tengah mengedarkan pandangannya mencarinya.

“Yoogeuni. . Aigoo. . Mianhe appa meninggalkanmu sayang.” langsung memeluk tubuh mungil Yoogeun begitu Jonghyuna menemukan aegy-nya tanpa menyadari siapa wanita yang terduduk disampingnya saat ini.

“Appa. . Ahjuma ini kenal sama Yoogeun, tapi dia sedih waktu peluk Yoogueni, appa kenal?”

“Jjong. .”

Jonghyun membeku seketika mendengar suara yang memanggilnya. Menoleh, hingga dia melihat seorang wanita yang sedari tadi bersama Yoogeun.

“Yoora. .” gumam Jonghyun, langsung mengeratkan pelukan ditubuh Yoogeun dan menatap Yoora penuh kebencian.

“Grep!” sesuatu menahan langkahnya saat dia berniat pergi dan mengacuhkan Yoora.

“Kumohon. . Huks, , Jjong. Aku .. Hiks. Masih ingin melihat-“

“Diam kau. . Jangan katakan apa-apa, jangan bicara dengan keluargaku.” potong Jonghyun dengan cepat, menggunakan suara datar tak ingin membuat Yoogeun kaget.

“Tae. .tolong Bawa Yoogeun pergi dari sini.” lalu Jonghyun menyerahkan Yoogeun pada Taemin yang kebetulan berpapasan dengannya.

“Yoogeuni bersama Taemin Hyung dulu ne.” ujar Jonghyun lembut.

“Kkajja Yoogeuni..” Taemin menggandeng tangan Yoogeun yang hanya bisa menurut dan berjalan menjauh meski sesekali masih menengok pada sang appa, terlihat sangat penasaran.

“Ikut aku!” langsung menarik lengan Yoora menuju balkon.

“Kuperingatkan padamu. . Han Yoora! Jangan pernah sekalipun menyetuh anakku, jangan menemui istriku. Menjauhlah dari keluragaku.” tanpa basi-basi, Jonghyun langsung mengahardik Yoora dengan nada sedikit tinggi.

“Jjong. . Jebal! Jangan perlakukan aku seperti ini. Aku hanya ingin melihat Yoogeun. Walau bagaimanapun dia, dia tetap anakku.”

“Hah? Anakmu, sejak kapan kau punya anak? Jangan bermimipi Han Yoora. Kau bukan apa-apa kami, jangan dekati keluargaku jika kau tidak ingin menyesal.”

“Jjong. . Ku mohon, biarkan aku hanya melihatnya dari jauh, kau tidak tahu bagaimana penderitaanku selama ini. Hiks,.” Yoora Berusaha menggapai lengan Jonghyun, tapi langsung ditepis dengan kasar.

“Jjong. . Jangan seperti ini.” tiba-tiba Hyukyung muncul, menolong Yoora yang sedikit tersungkur dilantai.

“Kupringatkan Kim Hyukyung, jangan membantunya, jangan berbicara padanya, dan jangan menemuinya.” cegah Jonghyun. Menarik Hyukyung dan menahan pinggangnya.

“Tapi Jjong. .” bantah Hyukyung, menatap Yoora dengan iba. Dia juga seorang wanita, sedikit ikut merasakan bagaimana kerinduan Yoora untuk memeluk Yoogeun. Meski terselip rasa takut, namun Hyukyung tak bisa menampik kenyataan bahwa Yoora ibu kandung Yoogeun.

***

Key menggandeng jemari Hyuna begitu erat. Satu tangannya yang lainnya menarik kopor menuju bagasi. Setelah pesta pernikahan mereka usai, keduanya langsung ditodong oleh bumonim Key agar segera berbulan madu. Ck, Honey moon. Mendengar kata itu membuat pipi Hyuna langsung bersemu merah.

Keduanya langsung masuk kemobil yang akan membawa mereka ke bandara Incheon setelah acara pamitan selesai, melambaikan tangan ketika mobil mulai berjalan.

“Auntie. . Uncle. . Hati-hati ne. . Segela beli yoogeun dongsaeng.” hanya bisa terkikik geli mendengar teiakan Yoogeun, sangat yakin bahwa Taeminlah yang mengajarinya, karena Hyuna dan Key masih bisa melihat jika Taemin tengah membisikkan sesuatu ditelinga namja kecilnya.

“Hah. . Joengmal! Pikiran Yoogeun mulai teracuni.” desah Hyuna, menghempaskan punggungnya disandaran mobil.

“Kau bahagia Na-ya?” tiba-tiba Key mencondongkan wajahnya, sedikit membungkuk hingga hidung mereka bersentuhan.

“Menurutmu?” balas Hyuna jahil, menyunggingkan senyum lalu memeluk leher nampyeonnya dengan erat.

“Setidaknya aku merasa lebih bahagia dari saat pengumuman kelulusanku dari Sorbonne dulu.”lanjutnya lagi. Membuat Key tersenyum dan membalas pelukan Hyuna, sedikit menjauhkan wajah Hyuna hingga mereka kembali berhadapan.

“Jeongmal Hengbokke. .” balas Key, kemudian menarik dagu Hyuna hingga bibir keduanya bertemu. Mengulum cherry tipis Hyuna perlahan, hingga mendalam. Tak ada hasrat maupun nafsu yang mendominasi. Hanya ketulusan yang dapat Hyuna rasakan dari pertautan mereka. Inilah yang membuat Hyuna begitu yakin tak salah memilih namja. Nalurinya selalu mengatakan bahwa Key tak akan pernah menyakitinya.

“Ready to our Honey Moon eoh?” bisik Key ditelinga Hyuna, seraya menghembuskan nafasnya dengan sengaja setelah melepas pertautan mereka.

“Nappuen. .” balas Hyuna, sedikit merona akibat godaan sang nampyeon. Lalu menyembunyikan diri dalam dekapan hangat milik Key.

“Wae. . Kau malu eoh. . Jinja! Sungguh moment yang langka bisa melihat nae anae merona begitu cantik.” goda Key kembali.

“Ish. . Kim Kibum! Berhentilah mengodaku.” gertak Hyuna tanpa melepaskan pelukannya, kenapa begitu nyaman bersandar dalam pelukan Key.

“Aku yakin, setelah pulang dari bulan madu ini. Kita bisa memberikan uri Yoogeunni dongsaeng.”

“Ya! Kim Kibum. .pervert!” pekik Hyuna, sedikit memukul lengan Key dengan kesal.

“Merci boecuop madmaiselle. Terima kasih karena kau menerima untuk selalu disampingku, menerimaku apa adanya. Nae sarang!” mengeratkan pelukannya, sembari mencium puncak kepala Hyuna begitu pelan saat menyadari anaenya ternyata telah terlelap dalam perjalanan menuju New Zeland setelah melewati bandara Incheon, menampilkan wajah innocent membuat Key tersenyum saat menatapnya.

“Jumuseyo Kim Hyuna.”

***

“Hyukyung nae chagi. . Dengarkan aku. Jebal! Jangan temui Yoora lagi. Jangan berbicara dengannya. Terlebih lagi jangan sampai Yoora mendekati Yoogeun. Aku tidak rela Hyu.” Jonghyun memeluk Hyukyung dari belakang saat melihat sang istri tengah berdiri didepan jendela sambil menatap indahnya langit malam nan bertabur bintang.

“Kenapa? Apa kau membencinya, bukankah kalau kau masih memendam benci, berarti disudut hati terdalammu masih ada cinta untuknya.”H yukyung mempoutkan bibirnya dengan kesal, cemburukah ia? Molla!.

“Weguere? Kau cemburu neh? Aigoo. . Uri omma cemburu. Bahkan setelah ada uri dongsaeng Yoogeunni yang tumbuh disini hem?” mengusap perut datar Hyukyung sembari mengecup bahu Hyukyung begitu mesra.

“Mwoya? Bagaimana kau bisa tahu Jjong?” melepaskan rangkulan Jonghyun. Kemudian berbalik menatap wajah tampan sang nampyeon.

“Dua strip merah, bukankah artinya positif ne? Aku melihat tespeck yang kau sembunyikan didalam laci.”kembali merangkul pinggang Hyukyung mendekat dan mencium kening anaenya.

“Terima kasih sayang. . Kau memberikan anugerah dan kebahagiaan besar padaku dan Yoogeun. Saranghae, Jongmal.”

“Tapi Jjong, kita belum memastikan kedokter. Aku takut tespeck itu salah yeobo. Aku takut mengecewakanmu.”

***

Matahari berada di garis khatulistiwa. Semburat Jingga yang membentang dilangit, kini membias pada hijau dedaunan juga persawahan yang mulai menguning. Memberikan kesan damai, itulah yang dirasakan Hyuna saat ini. Menatap Sunrise diatas perbukitan salah satu kota Kecil di New Zealand memberikan kesan mendalam dihatinya. Terlebih, kenyataan bahwa saat ini ia tengah berdiri disamping seorang namja yang menyandang gelar suaminya.

“Ehm. . Key, boleh aku bertanya satu hal padamu?” ujar Hyuna, membuka percakapan saat mereka duduk berdua di atas batang sebuah pohon tumbang di hari ke 5 masa Honey Moon mereka.

“Kenapa harus meminta ijin, seolah aku ini orang lain hem.” sahut Key, menatap Hyuna intenas seraya merangkul bahu si gadis agar mendekat.

“mungkin agak terdengar aneh, namun aku hanya ingin tahu. Sebelum bertemu denganku, adakah seseorang yang kau cintai. Pacar misalkan?” tanya Hyuna hati-hati.

“Kupikir kau memang harus tahu Na-ya, sebelum bertemu denganmu. Aku pernah mencintai seseorang, namun itu sudah lama sekali.”

Deg. .

Hyuna merasakan sesuatu menghantam jantungnya. Bukan, bukan cemburu. Hanya perasaan tidak nyaman saat mengetahui pernah ada orang lain di kehidupan suaminya itu. Frame yang melekat di otaknya selama ini, bahwa Key hanya menyukainya. Menjadi miliknya.

“Tapi, apa sekarang kau masih mencintainya. Beruntung sekali gadis itu.” gumam Hyuna lagi.

“Tentu saja tidak, kalau aku masih mencintainya, tentu aku tidak menikahimu. Dengar Na-ya, setelah apa yang kita lalui bersama disini. Mulai ada perasaan yang tumbuh di hatiku, disini. Hanya butuh waktu untuk memupuk perasaan yang kupunya untukmu.” Key mengambil tangan Hyuna dan menaruhnya didada. Membiarkan Hyuna merasakan debaran jantungnya yang bertalu.

“Aku menyayangimu.” bisik Key lagi, seraya menarik Hyuna dan memeluknya.

***

“Selamat tuan, istri anda memang tengah hamil 3 minggu. Dan kandungannya dalam keadaan sehat.” seorang dokter bermata bulan sabit menjabat tangan Jonghyun dengan senyum lebar.

“Tidak usah se formal itu Onew hyung!!.” balas Jonghyun seraya memukul lengan Onew yang kini mengedip jahil padanya.

“Geroum~yo. . Chukkaeyo untuk kalian berdua, jaga baik-baik kandunganmu Hyu. . Ini yang pertama bukan.” kata Jinki lagi. Mengacak poni Hyukyung dengan sayang.

“Ne oppa. . Gumapta!” sambut Hyukyung dengan wajah berbinar. Lengkap sudah kebahagiaanya, melahirkan seorang anak dari rahimnya itu adalah harapan terbesarnya selama ini.

“Kalau begitu kami permisi hyung. . Yoogeun pasti sudah menunggu di sekolahnya.” pamit Jonghyun.

“Ne. . Josimhe kalau begitu Jjong.”

***

Tik

tik

tik

suara detak jarum jam menggema diruangan mewah sebuah perkantoran. Merambat di kesunyian yang begitu terasa meski ada sesosok namja tampan tengah duduk menopang dagu. Menatap sebuah potret yang berbingkai di hadapannya.

“Hah. .” Minho, nama figur tampan itu. Menghela nafas berat dengan wajah kusut. Entahlah, dia hanya sedang galau. Belum bisa melepas Hyuna seutuhnya. Dia begitu kacau sejak pernikahan Hyuna beberapa waktu lalu.

Kriet . .

Pintu ruangan terbuka, membuat si pria bermata bulat itu mengangkat wajah.

“Oh. . Kau Yoora! Mussun iriya!” sapa Minho datar.

“Hanya mengantarkan bekal makan siangmu, omoniem yang menyuruhku tenang saja.” jawab Yoora sembari mendekat.

“Masih mengingat Hyuna.” tanya Yoora santai, tak sengaja melihat foto digenggaman Minho.

“Tentu saja, aku sudah menjalin hubungan bertahun-tahun dengannya.” balas Minho cuek.

“Maaf Minho, gara-gara aku kau dan dia harus begini.” Yoora menatap Minho penuh rasa bersalah.

“Jangan meminta maaf, ini bukan salahmu. Aku yang terlalu pengecut untuk menentang bumoniemku. Hanya saja aku masih tidak mengerti kenapa Hyuna mau menerima pinangan seorang Kim Kibum yang tak dikenalnya. Aku khawatir Key akan mempermainkannya.”

“sejujurnya, aku juga merasa heran dengan Key. Yang ku tahu, dulu Key begitu mencintai Hyukyung. Kau tahukan Kim Hyukyung?”

“Kim Hyukyung? Maksudmu istrinya Jonghyun hyung.” mata Minho melebar mendengar penuturan Yoora, sangat terkejut mendengar berita tentang Key.

“Ne. . Key sudah mencintai Hyukyung sejak high school dan ku pikir Sampai sekarangpun masih.” entahlah, apa maksdu Yoora mengatakan hal tersebut pada Minho.

“Benar kan dugaanku, Key tidak benar-benar mencintai Hyuna. Hah, lihat saja Kim Kibum. Akan kurebut kembali Hyuna-ku.” geram Minho tanpa sadar sudah mencengkeram pinggiran meja.

***

Namja kecil itu berlarian lincah bersama teman-temannya, terlihat begitu gembira. Yah, Kim Yoogeun -nama namja itu. Tengah tertawa riang saat salah seorang temannya tiba-tiba terjatuh dari perosotan dengan mimik lucu.

Deg. .

Deg. .

Tiba-tiba Yoogeun terhenti sambil memegang dadanya.

“Hhh. . Hhh. .” dadanya terasa begitu sesak. Hanya bisa tertunduk dan meringis sakit.

“Yoogeunni. . Gwenchana?” tanya salah seorang temannya, gadis manis berkepang dua yang bermain bersama Yoogeun sedari tadi.

“Ne. . Gwenchana.. Yoogeunni hanya lelah sedikit. He. He.” namja cerdas itu hanya tersenyum polos, tak terlalu peduli dan tak ingin ambil pusing dengan kondisinya yang sering sekali tiba-tiba sesak nafas.

“Yoogeun istirahat saja ya.. Kkajja!! Moobin temenin. Teman-teman, kita istirahat ne.!” sambut salah satu teman Yoogeun simpati.

“Ne. .” sahut yang lain kompak.

Kerumunan anak-anak play group itu berjalan menuju kelasnya dengan langkah riang dan sesekali melompat-lompat gembira. Menularkan semangat pada Yoogeun yang kini sudah ceria kembali. Tak menyadari sedari tadi seorang yeoja berusia 26 tahunan tengah memperhatikan setiap tingkah polah namja berpipi chubby.

“Yoogeuni. . Kau tumbuh menjadi anak yang ceria. Beruntungnya dirimu nak!!” gumam si yeoja.

***

“Eoh. . Itu umma Yoogeun sudah datang. Teman-teman, yoogeuni pulang dulu ne. . Ba bye!!” yoogeun melambaikan tangan begitu gembira saat melihat Hyukyung tengah berjalan dari parkiran. Kemudian berjongkok menyambut uluran tangan sang putra.

“Umma. . Umma. .” teriak Yoogeun.

“Aigoo. . Anak umma begitu bersemangat ne. .” balas Hyukyung.

“Anyoeng baby dongsaeng. .” tatapan mata Yoogeun beralih ke perut datar sang umma. Mendekat dengan wajah berbinar.

“Cepat lahil ya baby. . Nanti oppa ajak main bola, itu baleng teman-teman oppa juga, Ne!!”

Hyukyung hanya tertawa geli melihat tingkah anaknya.

“Kok Oppa?” celetuk Hyukyung.

“Kalena Yoogeun yakin bahwa saengi baby itu yeoja umma, appa juga bilang begitu.” ujar Yoogeun penuh keyakinan.

“Aigoo anaka umma. . Kkajja. . Kita pulang saja.” Hyukyung hanya bisa tergelak mendengarnya.

“Kim Hyukyung..” sesosok tubuh menghalangi jalan hyukyung dan Yoogeun.

“Ahjumonie. .” sapa Yoogeun ketika menyadari siapa yang berdiri tersebut.

“Han Yoora?” gumam Hyukyung tidak percaya.

“Bisakah kita bicara sebentar?” pinta Yoora sembari melirik Yoogeun dengan antusias.

“Hmm.. Itu. .” Hyukyung terlihat bingung.

“Sebentar saja. . Please! Yoogeuni mau kan Ahjumonie ajak jalan-jalan.”

“mau. . Yoogeuni mau di ajak jalan-jalan, nanti beli es klim banana yang kayak dibelikan Taeminnie hyung. Ne, umma? Bolehkan??”

Hyukyung terlihat bimbang, menggigit bibirnya tanpa sadar.

“Ah. . Ne, ne, Yooogeunni jalan-jalan bersama Yoora ahjuma, nanti umma jemput ne.”

“Kenapa umma tidak ikut?” tanya Yoogeun.

“Karena umma masih banyak pekerjaan, yooegun jalan-jalan sama Ahjumonie ne.. Ahjuma teman dekat Umma dan appa yoogeun.” Yoora sedikit meringis saat mengatakan teman dekat umma dan appa Yoogeun.

“Eh. . Jeongmal, ,” Yoogeun membulatkan matanya lucu.

***

“Ne tentu. .  umma sangat sayang Yoogeun. Kenapa ahjumma bertanya sepelti itu.” Yoogeum menyipitkan mata dengan heran. Menatap Yoora dengan ekspresi tidak terima saat yoora menanyakan perihal Hyukyung yang menyayangi Yoogeun atau tidak.

“Didunia ini, olang yang Yoogeun cintai peltama adalah umma, appa, baby dongsaengm, Kii uncle, Na-ya auntie dan Taeminnie hyung juga Jinki ahjussi.” Yoogeun menghitung dengan jarinya dengan wajah gembira. Meletakkan sendok eskrimnya yang kini tinggal separo.

“Kalau dengan Yoora ahjumma, Yoogeun sayang tidak?” Tanya Yoora kembali.

“Molla. . kan Yoogeun balu kenal ahjumma, tapi sepeltinya bisa. Yoogeun bisa sayang ahjumma kalau ahjumma beliin Yoogeun esklim setiap hali, he, he.” Yoogeun hanya menjawab polos, tak tahu bahwa Yoora tengah memasang wajah mendung. Hatinya terasa begitu sakit saat dirinya tak masuk dalam daftar orang-orang yang disayangi anak kandungnya sendiri.

“Huwahhh. .  Ahjuma. . Yoogeunni kenyang. Kita pulang ne? Yoogeun kangen umma, telus Yoogeun juga mau telpon Kii uncle.”

“Sebentar lagi ya sayang? Tunggu sebentar, ahjumma masih pengen bersama Yoogeun. Kkajja, kita jalan lagi, Yoogeun mau beli apa? Robot? Pesawat? Coklat?” Yoora mencoba merayu Yoogeun agar masih mau bersamanya.

“Shilloee. .  Yoogeun mau pulang. Yoogeun sudah punya banyak mainan, dan Yoogeun nggak boleh makan coklat supaya gigi Yoogeun nggak bolong-bolong.” Yoogeun berdiri dari duduknya, memaksa keluar dari kedai es krim meski Yoora sudah melarangnya.

***

Suara mesin mobil memasuki parkiran pelataran rumah besar milik keluarga Kim. Membuat Hyukyung meletakkan selfonnnya dan berjalan menuju teras, sedikit berdebar saat yang masuk ternyata mobil Jonghyun. Sejak tadi Hyukyung sudah gelisah menanti Yoogeun dan Yoora yang belum kembali juga. Telat dua jam dari yang Yoora janjikan. Hyukyung berjalan dengan takut, sangat takut jika Jonghyun tahu bahwa Yoora membawa Yoogeun tanpa seijinnya.

“Boghosippo yeobo. .” ujar Jonghyun begitu melihat kemunculan Hyukyung, memeluk tubuh ramping sang istri saat mereka sudah saling berhadapan.

“Aigoo. . kau ini, padahal baru delapan jam yang lalu kita tidak berjumpa.” Gerutu Hyukyuung.

“Bagiku, berpisah denganmu sedetik saja rasanya sudah seabad lamanya.”  Jonghyun berusaha menggombal.

“Berhenti merayuku Kim Jonghyun.”

“Ahh lelahnya. . “ ujar Jpnghyun akhirnya, merangkul bahu Hyukyung dan menariknya kedalam rumah.

“Yoogeuni. .  appa pulang!!” Jonghyun berteriak memanggil nama putranya.

“Jjong, itu sebenarnya Yoogeun tidak dirumah?” Hyukyung mengigit bibirnya dengan gelisah.

“Wae yeobo? Memangnya Yoogeun kemana? Bersama Taemin? Atau Jinki hyung? Ah. . jangan-jangan Key dan Hyuna sudah kembali dari bulan madu mereka?”

“anniyo. . Yoogeun  sedang. . __”

“UMMA!! APPA!!!!” ucapan Hyukyung terhenti saat mereka mendengar  teriakan Yoogeun dari luar yang langsung menghambur kedalam pelukan Hyukyung.

“Aigooo. .  anak appa dari mana eumh?” Tanya Jonghyun, mendekati Yoogeun dan mengusap kepala namja mungilnya.

“Mianhe. . aku terlambat membawa Yoogeun pulang.” Seketika Jonghyun memutar tubuhnya mendengar suara Yoora dari ambang pintu.

“Kau. . apa yang?” Jonghyun beralih menatap Hyukyung tak percaya.

“Bawa Yoogeun masuk Kim Hyukyung. . segera!!” perintah Jonghyun dengan begitu tegas membuat Hyukyung tak berani membantah.

“Sudah kuperingatkan beberapa kali, jangan dekati keluargaku. Han Yoora~ssi. .” gertak  Jonghyun penuh emosi. Rasanya, darahnya naik kekepala dengan cepatnya. Membuat Jonghyun merasa ubun-ubunnya mendidih mengetahui Yoora membawa Yoogeun untuk berjalan-jalan. Karena Jonghyun yakin, bahwa sekali Yoora masuk ke dalam kehidupannya maka sulit untuk menjauhkan wanita itu nantinya.

“Mianhe Jonghyun~ah. . aku hanya mengajak Yoogeun jalan-jalan. Apa itu salah, aku juga punya hak atas Yoogeun.” Yoora menantang Jonghyun dengan berani. Kebersamaannya bersama Yoogeun tadi sudah menimbulkan niat dalam hatinya untuk mengambil Yoogeun.

“Hak? Jangan membuatku tertawa Han Yoora~ssi. . dari dulu kau tak punya hak apapun atas Yoogeun.”

“Aku punya hak, karena aku yang melahirkan Yoogeun, mengandungnya dan mempeertaruhkan nyawaku untuknya, disbanding Hyukyung bahkan pengorbananku lebih besar.”

“Tutup mulutmu, jangan membicarakan pengorbanan disini. Kau sudah mengganggu ketentraman rumah tanggaku, sekarang pergi dari rumahku dan jangan kembali lagi.” Jonghyun mulai kalap saat Yoora mengungkit kalimat pengorbanan. Pria berbadan tegap itu sedkit menyeret Yoora keluar dari rumahnya.

“Aku akan berjuang Kim Jonghyun, bahkan kalau perlu aku akan menempuh jalur hukum untuk mendapatkan hak asuh atas Yoogeun.” Balas Yoora tak kalah tegas lalu melangkah pergi.

“Oh Shit!!!” umpat Jonghyun dengan kesal.

***

“Kenapa kau lakukan ini Hyu. . bukankah aku sudah melarangmu untuk menemui Yoora.” Hardik Jonghyun begitu mendapati Hyukyung memasuki kamar setelah memastikan Yoogeun sudah terlelap dikamarnya. Pria bermarga Kim itu mulai mengeluarkan kekesalannya yang dia tahan sejak siang. Tak ingin melihat Yoogeun tahu bahwa bumoniemnya tengah bersitegang saat ini.

“Mianhe Jjong, aku hanya tak tega membiarkan Yoora yang memohon padaku.” Ujar Hyukyung dengan suara pelan. Tak ingin terpancing emosi atas kemarahan suamianya.

“Apa kau berpikir untuk membiarkan Yoora mengambil Yoogeun dari kita. Karena kau merasa sekarang sudah memiliki pengganti Yoogeun dengan adanya bayi yang tengah kau kandung saat ini. Karena kau lelah mengurus Yoogeun yang jelas-jelas bukan anak kandungmu.”

“Astaga Kim Jonghyun. . kau. . bagaimana bias kau tega berkata seperti itu padaku.” Hyukyung merasakan sakit di hatinya, seolah aa ribuan jarum yang ditusukkan di ulu hati mendengar ucapan Jonghyun.

“Kau jahat Kim Jonghyun.” Lirih Hyukyung yang sudah tak mampu menahan air matanya lagi.


Komentar
  1. Hyora Kim berkata:

    eh ternyata masih ada sambungannya..
    Dan,,, INI APA??? HUWAAA.. Vii.. Kamu berhasil mengaduk2 hatiku#lebe
    Jong-hyu diganggu yoora. Key-na diganggu minho.. Yaiks! Aku ikut frustasi.. Tpi ada daya, aku hanya bisa duduk manis menanti part slanjutnya..
    HWAITING VII~serbaguna~*ngikutin eunri*!!!

  2. JustSii berkata:

    bingung mo ngomong apa. . . T______T banyak sekali rintanganya. . . . .
    HyuKyung….. JongHyun….. Key…… Hyuna…… Author……………………… :'{

  3. dya berkata:

    wow…
    bener2 rumit…
    kykx yoora sm minho spkat bwt gangguin hdupx kimbro beserta pasanganx…
    tp beneran mnguras emosi lho part ni,
    snyum2 sndri lht key-hyuna,sebel lht tngkah yoora trz abz it nysek bgt sm omonganx jjong k hyukyung…
    tp ap daya,cm bs duduk anteng nunggu part dpn…

  4. Song Sang Byung berkata:

    permasalahan.a mkin bnyak dan ribet.. Knapa jg Minho dan Yoora gnggu rmh tngga orang? Aph lg Key ma Hyuna, mreka kan bru nikah,.

  5. reginamegavinliya berkata:

    haduh kurjar banget yoora , hyukyung fighting

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s